GAME ELEKTRONIK, TEMAN ATAU MUSUH?



Perubahan jaman adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Pada masa kini, tidak dapat dipungkiri bahwa game elektronik adalah suatu jenis permainan yang sangat disukai oleh anak-anak dan remaja, terutama di kota-kota besar dimana game-game elektronik tersebut dapat dengan mudah diakses melalui komputer, pad elektronik, telepon genggam ataupun konsol.


Game elektronik memiliki karakter yang sama sekali berbeda dengan berbagai bentuk permainan konvensional. Esensi permainan konvensional terletak pada interaksi antara pemain dengan media fisik yang dimainkan, misalnya blok kayu, boneka, ataupun crayon. Sedang esensi game elektronik terletak pada interaksi antara pemain dengan berbagai kemungkinan pengalaman yang mungkin terjadi ketika memainkan game elektronik tersebut. Ada beberapa faktor yang menyebabkan game elektronik sangat menarik bagi anak-anak maupun remaja. Di antaranya adalah grafis atau animasinya yang menarik serta formatnya yang menyerupai dunia nyata sehingga membuka kesempatan bagi pemainnya untuk memasuki dunia yang sama sekali berbeda serta mengeksplor hal-hal yang tidak dapat dilakukannya di dunia nyata. Game pertandingan sepakbola, misalnya, tidak hanya menyediakan kesempatan untuk bermain bola di dunia maya, tapi juga menyediakan representasi lapangan sepakbola yang mendekati realita serta gerak tubuh para pemain yang mendekati realita. Dengan demikian, anak yang memainkan game tersebut seolah-olah memasuki realita baru dan dapat mencoba peran hidup yang sama sekali berbeda dari peran hidupnya saat itu.


Terkait hal tersebut, banyak orang tua yang merasa kebingungan bagaimana menyikapi game elektronik, apakah sebagai teman yang dapat membantu untuk mendidik anak atau sebagai musuh yang harus dijauhkan dari anak. Sesungguhnya, game elektronik dapat menjadi teman ataupun musuh, tergantung dari bagaimana orang tua mengelola game elektronik tersebut bagi anak. Karena pada kenyataannya, cukup banyak game elektronik yang memiliki unsur edukasi, namun tidak sedikit pula yang mengandung kekerasan. Jadi bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi game elektronik?


Hal tersebut sebenarnya terkait erat dengan, salah satunya, usia anak. Sebagai panduan, anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya tidak didorong untuk bermain game eletronik karena mereka belum memiliki kemampuan kognitif yang memadai untuk membedakan batas antara dirinya dan dunia yang ada di sekitarnya. Bagi mereka, sebaiknya orang tua mengarahkan pada permainan yang membantu pengembangan kemampuan motorik kasar maupun motorik halus serta eksplorasi fisik. Bagi anak balita pun, game elektronik tidak terlalu disarankan karena pada masa ini, yang paling diperlukan anak adalah stimulasi kognitif yang menolong mereka untuk mengerti dunianya. Dan hal tersebut paling efektif diperoleh melalui pengalaman nyata sehari-hari.


Barulah ketika anak memasuki usia sekolah, ia benar-benar siap untuk memperoleh dampak positif dari game elektronik. Pada masa ini, game elektronik dapat menjadi salah satu wahana bagi anak untuk menyalurkan minat mereka serta mengeksplor berbagai pengalaman maupun identitas. Walaupun demikian, orang tua tetap perlu memonitor jenis game elektronik yang dimainkan agar sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif, emosi maupun rentang perhatian anak. Orang tua perlu memeriksa rating game elektronik yang akan dimainkan, apakah untuk semua usia, untuk remaja ke atas ataukah game tersebut sebenarnya ditujukan bagi orang dewasa. Bila anak, baik secara sengaja ataupun tidak, terekspos kepada game elektronik yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya, orang tua perlu bersikap proaktif untuk memberikan bimbingan. Selain itu, sebaiknya orang tua berusaha menyeimbangkan game elektronik dengan permainan konvensional. Selain menghindarkan anak dari kecanduan terhadap game elektronik, hal tersebut juga memungkinkan kedua jenis permainan tersebut untuk dapat saling mengisi.


Bila berbagai hal tersebut di atas diterapkan maka kemungkinan besar game elektronik akan dapat menjadi sahabat orang tua untuk mendukung perkembangan anak.


0 views