SELF-TALK ANAK : IMAGINASI ATAU PEMBELAJARAN?



Anak berusia 3 – 8 tahun seringkali berbicara dengan dirinya sendiri secara spontan. Hal itu dalam dunia perkembangan anak dikenal dengan istilah self-talk. Sebenarnya self-talk tidak hanya dilakukan oleh anak, orang dewasa pun tidak jarang melakukan self-talk. Hanya saja self-talk anak berbeda dengan self-talk orang dewasa. Sayangnya, tidak banyak orang dewasa yang menyadari bahwa self-talk anak berbeda dengan self-talk orang dewasa. Akibatnya, ketika anak melakukan self-talk dalam kesehariannya, orang dewasa di sekitarnya, khususnya orangtua, cenderung menjadi khawatir akan kesehatan mental anaknya, karena anak dikira berbicara kepada teman imaginer ataupun hidup dalam imaginasinya serta tidak terlalu peduli kepada lingkungan sosial sekitarnya. Padahal penelitian telah mengindikasikan bahwa self-talk bagi anak adalah sesuatu yang normal dimana 20% - 60% pembicaraan anak berusia 3 – 8 tahun umumnya terdiri dari self-talk.


Orang dewasa umumnya melakukan self-talk secara sadar dan biasanya hanya dilakukan bila tidak ada orang lain di sekitarnya, untuk menghindari dianggap tidak normal. Self-talk orang dewasa biasanya terjadi dalam konteks tantangan kognitif, emosional ataupun sosial. Misalnya ketika seorang dewasa sedang banyak pikiran sehingga lupa dimana ia meletakkan kunci mobil, bukanlah hal yang tidak normal bila ia berbicara kepada dirinya sendiri, “Dimana ya terakhir saya melihat kunci itu?”


Berbeda dengan orang dewasa, anak melakukan self-talk secara bawah sadar dalam hampir semua konteks kegiatannya, seperti ketika sedang bersiap untuk tidur, bermain ataupun ketika mengerjakan tugas, baik di sekolah ataupun di rumah. Hal tersebut dikarenakan self-talk anak sesungguhnya merupakan cara anak untuk memahami suatu konsep ataupun pengalaman serta belajar mengatur emosi maupun tindakannya. Misalnya, ketika anak menggambar, tidak jarang aktivitas tersebut disertai dengan self-talk. Hal tersebut umumnya dikarenakan ketika anak menggambar pikiran anak sedang sangat aktif memproses peristiwa yang sedang terjadi ataupun peristiwa serupa yang pernah terjadi yang berhubungan denngan apa yang sedang digambarnya. Ia memikirkan berbagai konsekuensi yang mungkin terjadi terkait peristiwa tersebut, kemudian memformulasikan rencana dan berdasarkan itu, memutuskan tindakan yang akan diambil, baik untuk saat itu maupun bila peristiwa serupa terjadi kembali. Dengan demikian, self-talk bagi anak merupakan sarana untuk menciptakan instruksi bagi dirinya sendiri dalam mengatur pikiran serta tindakannya agar tidak bersifat impulsif.


Self-talk anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sosialnya. Semakin seorang anak interaktif secara sosial, semakin tinggi prosentase self-talk dalam aktivitasnya sehari-hari. Selain itu, semakin suportif lingkungan sosial anak, semakin tinggi pula frekuensi self-talk anak, sehingga transfer nilai-nilai hidup maupun life-skills pun, khususnya dari orangtua kepada anak, menjadi semakin optimal karena melalui self-talk, anak juga mengasimilasikan berbagai masukan dari orang-orang di sekitarnya.


Dengan demikina, bila anak kita yang berusia 3 – 8 tahun. berbicara dengan dirinya sendiri dengan kalimat yang sulit kita mengerti, sebagai orangtua kita tidak perlu terlalu khawatir. Hal itu umumnya mengindikasikan bahwa anak sedang mengelaborasi sesuatu dalam pikirannya untuk mengatur dirinya dalam konteks lingkungannya. Lagipula, dengan bertambahnya usia anak, umumnya self-talk yang dilakukan akan semakin berupa gerakan bibir yang minim suara, karena kemampuan kognitif anak untuk memproses sesuatu di dalam pikirannya, tanpa menggunakan suara, akan semakin meningkat.

0 views