BALITA & KEMATIAN ANGGOTA KELUARGA



Kematian anggota keluarga, umumnya akan menimbulkan dampak yang besar pada masing-masing anggota keluarga. Dalam konteks tersebut, anak balita merupakan kelompok yang memiliki tingkat kemampuan menolong diri sendiri yang paling rendah. Mereka sangat bergantung pada orang dewasa di sekitarnya untuk menemukan keseimbangan baru dalam kehidupan mereka setelah peristiwa kematian tersebut dan untuk memproses peristiwa itu baik dari dimensi kognitif maupun dimensi emosional.


Dimensi Kognitif

Pemahaman anak tentang kematian berkembang seiring dengan perkembangan kognitif anak, yang tentunya sangat dipengaruhi oleh usia anak. Anak balita umumnya sudah memiliki kemampuan untuk menggunakan kata “meninggal”, namun mereka belum dapat memahami makna kata tersebut sepenuhnya. Salah satu implikasi dari hal tersebut adalah balita belum dapat memahami bahwa kehidupan sebagaimana yang dijalani sebelum kematian, tidak ada lagi setelah peristiwa kematian. Itulah sebabnya, tidak jarang balita mengatakan hal-hal seperti, “Siapa yang akan memberikan susu untuk dede bayi nanti di surga?” atau “Boleh tidak aku bawa jus jeruk kesukaan papa supaya bisa diminum papa di kuburnya?”.


Selain itu, balita juga belum dapat memahami bahwa kematian bersifat permanen sehingga orang yang telah meninggal tersebut tidak dapat kembali lagi untuk selamanya. Hal tersebut tercermin dari kalimat yang sering diucapkan balita terkait anggota keluarga yang meninggal, seperti “Kapan sih mama kembali lagi?”. Namun sesungguhnya, pemahaman yang tidak utuh menolong balita dalam menghadapi kematian anggota keluarga, terutama bila peristiwa tersebut terjadi pada orangtua yang selama ini merupakan pengasuh utamanya. Kehilangan pengasuh utama umumnya membuat balita merasa kehidupannya menjadi sangat porak-poranda dan membuatnya merasa sangat tidak stabil. Dalam kondisi demikian, penolakan terhadap realita untuk sementara waktu, merupakan salah satu bentuk mekanisme proteksi diri yang memberinya kesempatan untuk kemudian menerima realita tersebut sedikit demi sedikit.


Dimensi Emosional

Peristiwa meninggalnya anggota keluarga yang dikasihi, terutama bila itu terjadi pada orangtua yang menjadi pengasuh utamanya selama ini, umumnya menimbulkan perasaan kehilangan yang besar dalam diri balita, yang tidak mudah untuk diatasinya. Tidak jarang ketika mengalami peristiwa yang demikian, balita tersebut terus-menerus menanyakan dan mencari anggota keluarga tersebut. Tidak jarang juga akibat tidak berhasil menemukan kembali sosok yang dicarinya, balita tersebut menangis terus-menerus, dan sulit sekali untuk dihibur atau ditenangkan. Bahkan dalam beberapa kasus, sang balita menjadi memiliki perasaan tidak aman dan kecemasan yang sangat tinggi sehingga sama sekali tidak mau ditinggal oleh anggota keluarga yang lain, karena takut ia akan kehilangan mereka juga. Namun di kasus-kasus lain, balita kemudian menarik diri dari orang-orang di sekitarnya karena mereka mengingatkan dirinya akan anggota keluarga yang meninggal tersebut.


Dalam dimensi ini, terdapat perbedaan dampak yang dialami oleh anak laki-laki dan anak perempuan. Penelitian telah menemukan bahwa anak perempuan umumnya lebih rentan terhadap dampak dari peristiwa kematian anggota keluarga. Hal tersebut dikarenakan, secara umum anak perempuan lebih sensitif terhadap apa yang terjadi dalam keluarga. Selain itu, juga terdapat perbedaan ekspresi di antara anak laki-laki dan anak perempuan terkait peristiwa kematian anggota keluarga. Walaupun tidak bersifat mutlak, namun umumnya anak laki-laki lebih sulit mengekspresikan perasaannya terkait kematian anggota keluarga yang dikasihinya, dibandingkan anak perempuan. Oleh karena itu, umumnya anak laki-laki lebih jarang membicarakan peristiwa kematian tersebut dibandingkan anak perempuan. Fenomena ini biasanya semakin terlihat jelas pada balita yang usianya mendekati lima tahun.


Ketika salah seorang anggota keluarga meninggal dunia, idealnya fakta tersebut tidak disembunyikan dari balita. Balita perlu diinformasikan tentang kematian tersebut dan juga penyebabnya untuk mencegah munculnya berbagai fantasi terkait peristiwa tersebut. Namun tentunya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menginformasikan peristiwa kematian anggota keluarga kepada balita. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sosok yang menginformasikan. Idealnya, sosok tersebut adalah orangtua balita atau orang lain yang secara emosional cukup dekat dengan sang balita. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konteks lingkungan ketika informasi tersebut diberikan. Informasi tersebut sebaiknya diberikan dalam sebuah ruangan yang cukup nyaman bagi balita. Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah isi informasi yang diberikan. Idealnya, informasi yang diberikan berupa kalimat lugas dengan penjelasan yang sekonkrit mungkin. Hindari pemakaian analogi yang dapat menimbulkan kebingungan ataupun kecemasan pada balita, seperti “tidur untuk selamanya”, dan sedapat mungkin sampaikan implikasi-implikasi biologis yang bersifat konkrit untuk menolong balita memproses peristiwa kematian tersebut secara kognitif. Misalnya, “Mama sudah meninggal dan tidak bisa ada bersama kita lagi untuk selama-lamanya. Mama sudah tidak bisa bernafas lagi, rambutnya juga sudah tidak bisa bertambah panjang lagi. Dan mama sekarang juga sudah tidak akan merasakan sakit lagi”.


Reaksi balita saat menerima informasi tentang kematian anggota keluarga yang dikasihinya, sangat bervariasi, mulai dari penyangkalan sampai tangisan yang intens. Bila balita menolak menerima informasi itu, hal itu menunjukkan bahwa sang balita butuh waktu untuk menerimanya sedikit demi sedikit. Dalam kondisi demikian, akan menolong bila sang pembawa berita menyampaikan kepada balita bahwa ia dapat memahami bila balita sulit menerima bahwa hal tersebut terjadi pada orang yang dikasihinya itu. Bila reaksi balita berupa tangisan yang intens, penting agar ia diberikan waktu untuk melakukan tersebut selama yang ia butuhkan. Walaupun mungkin tangisan tersebt tidak nyaman untuk didengar, hindari usaha untuk menghentikan tangisan balita saat itu. Dalam kondisi demikian, akan lebih menolong bila sang pembawa berita memeluk balita atau sekedar menemaninya tanpa mengatakan apa-apa.