BALITA & TONTONAN ELEKTRONIK



Di masa modern ini, tontonan elektronik merupakan bentuk hiburan yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak-anak di kota besar. Beberapa penelitian yang dilakukan terkait fenomena tersebut mengindikasikan bahwa anak dalam kelompok usia yang berbeda, memiliki preferensi konten tontonan yang berbeda. Contohnya, anak yang berusia 7 tahun umumya lebih menyukai tontonan dengan konten petualangan yang banyak aksi. Bagaimanakah tontonan yang sesuai bagi kelompok usia balita?


Anak Usia 0 – 2 tahun

Anak-anak pada kelompok usia ini umumnya sudah dapat menunjukkan ketertarikan dan preferensi yang spesifik pada suara. Penelitian telah membuktikan bahwa umumnya sejak usia 4 bulan, seorang bayi sudah mulai memalingkan kepalanya ke arah sumber suara musik yang mereka senangi. Selain suara musik, anak-anak pada kelompok usia ini juga umumnya sangat menyukai suara yang bertipe motherese baik pada tontonan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Suara motherese adalah suara manusia yang beritme agak lambat dengan intonasi yang agak dilebih-lebihkan.


Dapat dikatakan, kemampuan anak untuk mengenali suara sudah cukup advance sejak usia yang sangat muda. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan kemampuan mereka dalam mengenali obyek visual. Kemampuan visual bayi cenderung baru berkembang penuh di usia 8 bulan, walaupun sebelum usia 8 bulan mereka umumnya sudah mampu untuk mengenali warna, kontras dan gerakan. Namun demikian, sejak hari mereka dilahirkan, bayi umumnya sudah memiliki preferensi terhadap obyek visual. Mereka umumnya menyukai obyek visual yang bergerak dengan warna yang terang (namun tidak terlalu menyala) dan kontras yang tegas. Itulah sebabnya, umumnya anak di kelompok usia ini menyukai tontonan anak dengan tokoh yang berwarna terang seperti pada Sesame Street ataupun Barney. Selain itu, mereka juga cenderung sangat suka menonton iklan TV. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar iklan TV memang dirancang untuk menarik perhatian bukan melalui alur cerita, melainkan melalui stimuli pendengaran dan penglihatan yang menarik bagi segala usia, seperti suara tawa, sorakan, musik / nyanyian, warna yang terang, tarian ataupun gerakan cepat lainnya.


Anak Usia 2 – 5 tahun

Ketika memasuki usia 2 tahun, umumnya anak mulai memperhatikan konten tontonan mereka dan lebih mampu untuk berlama-lama menonton TV dibandingkan sebelumnya. Beberapa hasil penelitian mengindikasikan bahwa jumlah jam menonton TV pada anak di kelompok usia ini umumnya mencapai 5 – 6 kali jumlah jam menonton TV pada anak usia 0 – 2 tahun.


Kenaikan drastis pada ketertarikan anak untuk menonton TV, yang terindikasi dari meningkat drastisnya jumlah jam menonton TV, sangat dipengaruhi oleh meningkatnya kemampuan anak untuk memahami konten tontonan. Bertambahnya tingkat pemahaman anak terhadap tontonan sesungguhnya sangat erat kaitannya dengan bertambahnya perbendaharaan kata anak. Sebagai perbandingan, anak berusia 2 tahun rata-rata hanya memiliki beberapa ratus perbendaharaan kata, sedangkan anak berusia 6 tahun umumnya memiliki sekitar 10.000 perbendaharaan kata.

Selain itu, bertambahnya tingkat pemahaman anak terhadap suatu tontonan juga berkaitan dengan pesatnya perkembangan daya imaginasi anak di kelompok usia ini. Secara umum, daya imaginasi anak mulai berkembang sejak usia 18 bulan, dimana pada usia tersebut mereka sudah dapat memainkan pisang seolah-olah sebagai telepon, misalnya. Memasuki usia 2 tahun, daya imaginasi anak semakin kompleks secara sosial. Anak semakin mampu untuk mengimajinasikan dan memainkan berbagai skenario dan peran yang berbeda, seperti peran ayah, ibu, dokter ataupun guru. Akan tetapi, baru selepas balita-lah kemampuan seorang anak untuk membedakan antara fantasi dan realita, terbentuk secara penuh. Pada masa balita, anak umumnya mempercayai bahwa semua yang ditontonnya adalah realita, bahkan kadang anak dapat berkeyakinan bahwa tokoh yang ditontonnya hidup di dalam televisi. Tidak jarang dijumpai ketika anak berusia 3 atau 4 tahun melihat tokoh favoritnya muncul di televisi, ia kemudian melambaikan tangan ataupun berusaha menyentuh televisi untuk memegang tokoh tersebut.


Meningkatnya perhatian dan minat anak terhadap konten tontonannya jelas terlihat dari semakin banyaknya pertanyaan anak di kelompok usia ini akan apa yang ditontonnya. Berbeda dengan usia sebelumnya yang lebih tertarik pada efek suara, kecepatan aksi dari tokoh yang ditonton, ataupun teknik kamera yang canggih, sejak usia 2 tahun dan seterusnya, perhatian & ketertarikan anak pada suatu tontonan cenderung berbanding lurus dengan tingkat pemahamannya terhadap konten dari tontonan tersebut. Itulah sebabnya, anak yang lebih muda dalam kelompok usia ini, cenderung menyukai tontonan yang beritme lambat dengan banyak pengulangan, dibandingkan tontonan yang beritme cepat. Banyaknya pengulangan, baik dalam konten tontonan maupun pada frekuensi pemutaran tontonan tersebut, memampukan anak yang lebih muda untuk memahami jalan cerita tontonan itu. Hal tersebut serupa dengan kebutuhan orang dewasa untuk membaca beberapa kali suatu bacaan yang relatif sulit agar dapat memahami isinya dengan baik.


Selain pengulangan, kemiripan situasi tontonan dengan situasi yang sehari-hari dialami anak, juga menolong anak untuk lebih memahami tontonan tersebut. Itulah sebabnya anak dalam kelompok usia ini cenderung lebih menyukai tontonan dengan tokoh yang usianya sebaya dengan mereka ataupun tokoh fantasi dengan karakter yang mudah dipahami serta berbentuk benda atau hewan yang mudah mereka kenali seperti anjing Goofy atau kereta api Thomas. Selain itu, mereka juga lebih menyukai tontonan dengan setting yang sering mereka jumpai, seperti setting rumah, taman bermain, ataupun sekolah, karena lebih mudah untuk mereka cerna.


Sudahkah tontonan anak anda sesuai dengan karakter usianya?