KAKEK-NENEK, CUCU & ORANGTUA



Keterlibatan kakek & nenek dalam kehidupan cucu terbentang dari satu titik dimana mereka sangat terlibat dalam kehidupan cucu sampai ke titik di seberangnya, dimana mereka tidak terlibat sama sekali. Di antara kedua titik tersebut adalah titik-titik dimana kakek & nenek berjumpa dengan cucu dari waktu ke waktu saat liburan, berkomunikasi secara tidak langsung melalui telpon ataupun berbagai media online secara rutin, maupunterlibat dalam menjaga cucu selama beberapa hari dalam seminggu. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa peran sebagai kakek-nenek tidaklah memiliki batasan yang pasti, sebab ekspektasi terhadap keterlibatan mereka dalam keluarga sangatlah bervariasi.


Bila ditinjau lebih dalam, secara historis keterlibatan kakek-nenek dalam kehidupan cucu telah mengalami cukup banyak pergeseran. Pada era agraris, dimana sebagian besar pasangan menikah di usia muda dan kemudian rata-rata memiliki lebih dari 4 orang anak, seringkali terjadi tumpang tindih antara peran sebagai orangtua dengan peran sebagai kakek-nenek. Hal tersebut dikarenakan, ketika anak tertua menikah lalu tinggal berdekatan dengan rumah orangtua dan kemudian memiliki anak sendiri, anak termuda seringkali masih dalam asuhan orangtua dan tinggal bersama orangtua. Dengan demikian, pasangan tersebut menjalankan peran ganda, yaitu sebagai orangtua kepada anak termuda maupun sebagai kakek-nenek kepada cucu dari anak tertua, yang tinggal tidak jauh dari mereka. Kondisi tersebut, ditambah dengan usia kakek-nenek yang masih relatif muda sehingga masih cukup sehat, mengimplikasikan keterlibatan kakek- nenek yang cukup tinggi dalam kehidupan cucu. Pada masa itu, peran kakek-nenek sebagai orangtua pengganti bagi cucu (saat orangtua cucu bekerja) umumnya dapat berjalan cukup mulus karena pada saat yang sama mereka masih menjadi orangtua bagi anak termuda.


Pada masa kini, umumnya seseorang baru memasuki peran sebagai kakek / nenek setelah masa “empty nest” karena saat ini sebagian besar pasangan menikah di usia yang lebih lanjut dan memiliki lebih sedikit anak. Dengan demikian, pada umumnya tidaklah mudah bagi kakek-nenek pada jaman ini untuk menjalankan peran sebagai orangtua pengganti bagi cucu karena peran tersebut sudah mereka tinggalkan sebelumnya. Selain itu, lokasi rumah yang secara geografis tidak lagi berdekatan seperti pada jaman agraris yang diperparah oleh kemacetan lalu lintas, mempersulit interaksi langsung antara kakek-nenek dengan cucu. Di sisi lain, kemajuan dalam ilmu kesehatan dan teknologi modern telah banyak berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup lansia, dan karenanya mengubah profil kakek-nenek yang dulunya dipersepsikan sebagai sosok yang lemah, butuh pendampingan, dan tidak up-to-date terhadap perkembangan jaman, menjadi sosok yang lebih aktif dan mandiri serta lebih mampu terlibat dalam komunikasi tidak langsung yang mengandalkan teknologi. Akibatnya, secara umum, keterlibatan kakek-nenek dalam kehidupan cucu semakin menurun seiring dengan perkembangan jaman.


Terlepas dari pergeseran peran kakek-nenek dalam kehidupan cucu, keberadaan kakek & nenek dapat memberikan kontribusi positif maupun negatif kepada keluarga. Kontribusi negatif umumnya terjadi bila keberadaan mereka justru menimbulkan ketegangan dalam keluarga, karena turut campur dalam disiplin orangtua kepada cucu, misalnya. Sedang kontribusi positif biasanya terjadi dalam bentuk bantuan finansial, sebagai tempat bertanya dan meminta nasihat, sebagai mediator konflik keluarga, membentuk nilai-nilai dan persepsi positif pada cucu tentang orangtua dan penuaan, serta sebagai bala bantuan dalam mengasuh anak. Selain itu, keberadaan kakek-nenek umumnya juga dapat membantu cucu untuk lebih mengenal sejarah keluarga dan orangtuanya, karena mereka dapat menceritakan kepada sang cucu kisah-kisah tentang keluarga besar maupun tentang masa kecil orangtua.


Bervariasinya peran kakek-nenek mengindikasikan bahwa peran tersebut memiliki banyak sekali sisi. Oleh karena itu, untuk megoptimalkan keharmonisan, peran mereka perlu disesuaikan dengan konteks norma budaya yang ada serta kepribadian dari masing-masing kakek-nenek. Namun secara umum, kakek-nenek akan semakin terlibat secara positif dalam kehidupan cucu bila :

  • Mereka tinggal relatif dekat dengan cucu

  • Usia mereka cukup lanjut, karena bila kakek-nenek masih aktif bekerja umumnya waktu mereka untuk cucu menjadi tidak fleksibel serta terbatas

  • Usia cucu relatif muda, karena ketika cucu memasuki usia remaja, umumnya interaksi mereka akan lebih terfokus pada teman sebayanya (peer)

  • Jumlah cucu tidak terlalu banyak. Terkait hal ini, penelitian telah mebuktikan bahwa setiap penambahan jumlah cucu menurunkan waktu interaksi kakek-nenek dengan cucu.


Berdasarkan hal-hal di atas, jelaslah bahwa sesungguhnya kakek-nenek pada masa kini memiliki pilihan yang lebih luas tentang sejauh mana mereka mau terlibat dalam kehidupan cucu dan pengaruh seperti apa yang ingin mereka berikan. Namun, di sisi lain, orangtua juga memiliki pilihan yang semakin luas tentang sejauh mana mereka akan melibatkan kakek-nenek dalam kehidupan cucu. Keputusan orangtua tentang hal tersebut akan mengirimkan pesan yang sangat kuat kepada anak.


Bila orangtua cenderung menempatkan kakek-nenek sebagai tempat bertanya dan meminta nasihat, maka cucu akan terdorong untuk memiliki persepsi yang positif tentang proses penuaan, yaitu sebagai proses peningkatan kebijaksanaan. Selain itu, bila orangtua mendorong cucu untuk banyak berinteraksi dengan kakek-nenek, maka cucu akan terdorong untuk memandang individu yang lanjut usia sebagai individu yang tetap dapat aktif dan berkontribusi kepada keluarga pada khususnya, serta kepada masyarakat pada umumnya. Namun, bila orangtua memandang kakek-nenek sebagai beban yang memberatkan, maka besar kemungkinan cucu akan memaknai proses penuaan secara negatif, yaitu hanya sebagai proses kehilangan kemandirian, stabilitas ekonomi ataupun proses penurunan fungsi.


Pada prinsipnya, interaksi positif dengan kakek-nenek yang terbangun sejak kecil, umumnya akan meningkatkan kemungkinan seseorang untuk memandang proses penuaan secara positif dan menjadi kakek atau nenek yang terlibat secara positif dalam kehidupan cucunya, bila ia lanjut usia dan memiliki cucu sendiri nantinya. Karenanya, sebagai orangtua, marilah kita menyampaikan kepada anak kita pesan yang positif tentang tentang proses penuaan dan nilai individu yang lanjut usia.