KAPAN HUKUMAN TEPAT UNTUK DIBERIKAN?



Dalam mendisiplin anak, tidak sedikit orang tua merasa gamang dalam memberikan hukuman kepada anak. Hal tersebut dikarenakan orang tua umumnya tidak ingin otoriter dalam mendidik anak, namun juga tidak ingin terlalu memanjakan anak. Salah satu hal yang sering sekali menjadi pertanyaan orang tua adalah kapan saat yang tepat untuk memberikan hukuman kepada anak? Secara prinsip, hukuman kepada anak sebaiknya diberikan terakhir sekali, setelah semua cara disiplin yang lain sudah dilakukan dan belum menunjukkan hasil. Sebelum hukuman diberikan, orang tua sangat perlu memastikan bahwa ekspektasinya kepada anak realistis, yaitu sesuai dengan tahap perkembangan anak. Selain itu, sebelum menghukum anak, orang tua perlu memeriksa apakah ada kebutuhan yang tidak terpenuhi saat itu sehingga ia berperilaku tidak pada tempatnya. Namun demikian, orang tua perlu menyadari bahwa ketika ia sudah memenuhi kebutuhan anak dengan cukup dari berbagai segi dan ekspektasimya terhadap anak pun realistis, tetap ada kemungkinan anak tidak menurut kepada orang tua. Hal tersebut dikarenakan anak adalah manusia yang tidak lepas dari dosa. Dalam kasus demikian, langkah pertama yang dapat dilakukan orang tua adalah menyampaikan permintaan kepada anak disertai dengan penjelasan.


Mengapa permintaan yang disertai dengan penjelasan ini penting untuk ada? Karena dengan menyampaikan permintaan, orang tua menunjukkan bahwa ia menghargai anak sebagai individu yang memiliki pilihan untuk menuruti permintaan orang tua atau tidak menuruti permintaan orang tua. Dengan memberikan penjelasan, orang tua memberitahukan kepada anak dasar untuk menuruti permintaan orang tua. Hal tersebut menyiratkan kepercayaan orang tua kepada anak, bahwa ia dapat mengambil keputusan yang benar bila mendapat informasi yang benar. Bila hubungan orang tua dengan anak baik, biasanya anak akan merespon permintaan orang tua tersebut dengan positif.


Namun ada kalanya, walau sudah diminta dengan baik dan diberi penjelasan anak tetap tidak mau menurut. Bila hal itu terjadi, hal berikutnya yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah manipulasi fisik yang lembut. Misalnya, anak ingin makan dengan tangan tanpa mencuci tangan dulu. Sudah diminta dengan baik untuk mencuci tangan dan diberi penjelasan oleh orang tua, anak tetap tidak mau mencuci tangan. Dalam hal ini, manipulasi fisik yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah melingkarkan tangannya ke pundak anak dan membimbingnya ke tempat cuci tangan sambil mengulangi permintaan yang sama dengan lembut juga. Hindari mengomeli anak karena umumnya bila anak diomeli ia cenderung menutup diri terhadap nilai-nilai yang ingin ditanamkan oleh orang tua saat itu. Lagipula, kalau mau jujur, seringkali alasan orang tua mengomeli anak lebih sebagai luapan perasaan kesal dibandingkan ingin menanamkan kebiasaan yang baik.


Bila langkah satu dan dua sudah dilakukan, namun anak tetap tidak mau menurut, maka orang tua dapat memberikan instruksi. Perbedaan antara instruksi dengan permintaan adalah pada intonasi suara. Isi kalimatnya bisa saja sama dengan permintaan, namun intonasinya turun. Permintaan menyiratkan penghargaan orang tua kepada hak anak untuk memilih menurut atau tidak, sedang instruksi menyiratkan otoritas orang tua terhadap anak. Karena memiliki otoritaslah maka orang tua dapat menghukum anak. Contoh instruksi, misalnya “Nak, cuci tanganmu!”.


Bila setelah diberikan instruksi anak masih belum menurut juga, maka barulah orang tua dapat memberikan hukuman. Jadi tahapan yang perlu dilalui orang tua untuk sampai pada hukuman sebenarnya cukup panjang. Karena memang pada prinsipnya, hukuman adalah cara terakhir dalam mendisiplin anak setelah semua cara disiplin lain tidak menunjukkan hasil. Hukuman adalah amunisi terbesar orang tua, yang perlu digunakan secara hemat dan seperlunya saja.