MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI ANAK



Kepercayaan diri merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kesehatan emosi anak. Anak yang memiliki kepercayaan diri yang baik biasanya merasa dikasihi dan diterima serta memiliki keyakinan akan kompetensinya. Dengan demikian, biasanya ia akan lebih mampu untuk memaksimalkan potensinya dan membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya, dibandingkan anak yang kurang percaya diri. Anak yang kurang percaya diri cenderung memandang rendah kemampuannya dan kurang memiliki keyakinan bahwa ia dapat berhasil. Bila ada 100 orang yang mengatakan bahwa hasil pekerjaannya baik dan hanya 1 orang yang mengatakan bahwa hasil pekerjaannya kurang, maka anakyang kurang percaya diri akan cenderung mempercayai omongan 1 orang tersebut. Umumnya anak yang demikian memiliki pencapaian yang berada di bawah potensinya, baik secara akademik maupun sosial. Selain itu, ada juga anak kurang percaya diri yang sebenarnya berprestasi, namun karena dorongan untuk terus mendekati kesempurnaan, baik oleh diri sendiri maupun oleh orangtua, menjadi memiliki persepsi bahwa ia tidak cukup baik.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa kepercayaan diri sesungguhnya tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan. Hal tersebut dikarenakan kepercayaan diri pada dasarnya terkait dengan penilaian yang positif terhadap diri, baik saat berhasil maupun gagal. Agar dalam diri anak, khususnya balita, terbangun kepercayaan diri yang sehat, diperlukan konfirmasi yang konsisten akan kompetensi dan nilai diri anak dari para tokoh dalam kehidupan anak, seperti guru, kakek-nenek, dan terutama orangtua. Dengan demikian, anak akan merasa diterima dan dikasihi. Kepercayaan diri yang sehat akan tercermin dalam banyak hal, antara lain :

  1. Pemahaman yang baik tentang diri, yaitu pemahaman tentang siapa saya dan bagaimana posisi saya dalam lingkungan sosial saya, serta tentang apa perbedaan dan persamaan saya dengan orang lain di sekitar saya.

  2. Penerimaan diri, yaitu pemahaman tentang kekuatan dan kelemahan diri, perasaan nyaman dan bisa menerima kondisi fisik diri, serta bisa menerima bahwa berbuat kesalahan merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan.

  3. Self-reliance, yang terdiri dari kemandirian yang terlihat dari kemampuan untuk mengurus diri sendiri dan memotivasi diri sendiri, serta keyakinan bahwa saya mampu untuk menghadapi tantangan hidup apapun yang akan muncul.

  4. Kemampuan mengekspresikan diri, yaitu kemampuan untuk memahami bahwa komunikasi tidak hanya terjadi melalui kata-kata, melainkan juga melalui intonasi suara, ekspresi wajah dan bahasa tubuh, sehingga dapat mengekspresikan diri dengan baik.

  5. Kemampuan membangun hubungan yang baik, termasuk di dalamnya kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain serta kemampuan untuk menghormati dan bertoleransi terhadap pendapat orang lain yang berbeda

Anak dengan kepercayaan diri yang sehat akan mampu bertumbuh dalam hal-hal tersebut di atas. Namun sesungguhnya, terdapat hubungan yang timbal–balik antara karakteristik tersebut dengan kepercayaan diri. Bila berbagai karakter tersebut ditumbuhkan melalui keberadaan dukungan dan lingkungan yang kondusif, maka kepercayaan diri anak juga akan berkembang.


Cara Membangun Kepercayaan Diri Anak

Bila pengalaman hidup anak secara umum membuat ia merasa dikasihi dan diterima, maka kemungkinan besar anak akan merasa berharga, sehingga tidak terlalu bergantung kepada konfirmasi dan penerimaan orang lain untuk mendefinisikan dirinya. Dengan kata lain, ia akan memiliki kepercayaan diri yang sehat. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk membangun kepercayaan diri anak, khususnya balita :

  • Menerima dan menghargai anak, sebagaimana adanya, sebagai individu yang unik yang dapat memiliki pendapat serta pandangan yang berbeda dari orangtua, serta berusaha memahami sudut pandang anak bila terjadi perbedaan pendapat

  • Menyemangati anak bila ia menghadapi tantangan, termasuk tantanngan yang menurut orangtua mudah untuk diatasi, serta memberikan pujian saat anak berhasil mengatasinya, atau bahkan membuat perayaan kecil untuk itu

  • Meletakkan ekspektasi yang realistis terhadap anak. Ekspektasi orangtua terhadap anak sebaiknya tidak terlalu rendah agar anak terus terkondisi untuk berkembang, namun juga tidak terlalu tinggi sehingga sangat sulit untuk dicapai oleh anak

  • Menanamkan dalam diri anak bahwa kesalahan dan kegagalan merupakan hal yang wajar dalam hidup, dan bahkan dapat menjadi batu loncatan menuju keberhasilan bila dimanfaatkan sebagai pelajaran untuk kesempatan di lain hari

  • Mengucapkan kata-kata yang mengekspresikan perasaan kasih orangtua kepada anak, misalnya, “Mama / papa sayang sekali sama kamu”. Pengucapan kata-kata tersebut perlu disertai komunikasi non-verbal (intonasi suara, ekspresi wajah dan bahasa tubuh) yang mendukung. Hal tersebut dikarenakan, bila terjadi perbedaan antara komunikasi verbal dengan non-verbal dari orangtua, sehingga komunikasi orangtua menjadi ambigu, umumnya anak akan lebih mempercayai komunikasi non-verbal orangtua.


Bila orangtua melakukan hal-hal tersebut dengan konsisten, maka besar kemungkinan anak akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Tentu saja akan ada masa- masa dimana anak meragukan dirinya sehingga ia kurang percaya diri. Namun bila ia memiliki pondasi kepercayaan diri yang kuat, ia akan mampu menutupi keraguan tersebut. Dan untuk membangun kepercayaan diri anak, tidak pernah ada kata “terlambat”, karena kepercayaan diri sesungguhnya adalah sesuatu yang dapat dipelajari di usia berapa pun. Namun bila orangtua merasa tingkat keercayaan diri anak sangat rendah dan sulit dikembangkan, tentu tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan konselor ataupun psikolog.