MEMBANGUN KEPRIBADIAN ANAK SEJAK DINI



Anak-anak yang bermasalah dalam hal kepribadian umumnya memiliki konteks yang melatarbelakangi masalah kepribadian mereka, terutama konteks pola asuh yang diterima dari orangtua. Hal tersebut dikarenakan perilaku anak sesungguhnya adalah respon terhadap perilaku orangtua. Anak-anak, terutama balita belum terlalu mengerti tentang cara menjalani hidup dengan baik. Dalam hal tersebutlah orangtua berperan, yaitu untuk memberikan bimbingan kepada anak-anak agar tumbuh dalam kedewasaan hidup. Melalui interaksi dengan orangtua, anak belajar tentang realita hidup serta konsep-konsep seperti kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab.


Orangtua perlu menyadari bahwa kepribadian anak tidak dapat bertumbuh dewasa dengan sendirinya. Perjalanan waktu hanya dapat membuat anak bertambah tua, namun tidak serta merta membuat anak menjadi semakin matang dalam hal kepribadian. Tingkat kedewasaan anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh orangtua. Dan bila orangtua tidak berusaha untuk membangun kepribadian anak sejak dini, maka semakin besar kemungkinan anak memiliki masalah kepribadian.


Secara garis besar, ada tiga macam cara yang dapat digunakan oleh orangtua untuk membangun kepribadian anak sejak dini, yaitu mengajarkan, mencontohkan serta memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami. Ketiga cara tersebut saling melengkapi satu sama lain. Banyak konsep terkait kepribadian yang dapat diajarkan dengan gamblang kepada anak, bahkan di usia balita, misalnya tentang konsekuensi. Terkait itu, orangtua dapat menjelaskan kepada anak ketika anak sedang dalam keadaan tenang bahwa menjerit-jerit ketika ia marah akan mengganggu orang lain, dan karenanya bila ia melakukan hal tersebut maka pada hari itu ia tidak akan diperbolehkan bermain bersama teman sepulang sekolah. Penjelasan dari orangtua tersebut akan menolong anak untuk mengerti pilihan yang ia miliki beserta konsekuensi dari masing-masing pilihan.


Selain diajarkan, kepribadian anak juga perlu dibangun dengan cara dicontohkan oleh orangtua. Anak umumnya akan meniru peilaku orangtua dalam berbagai segi kehidupan, seperti bagaimana orangtua bersikap terhadap anak, pasangan, pekerjaan, dan lain sebagainya, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi orangtua untuk senantiasa memperlakukan anak sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Misalnya, bila orangtua tidak ingin anak memotong pembicaraan orangtua, maka orangtua juga perlu menjaga agar tidak memotong pembicaraan anak, walaupun apa yang dibicarakan anak sepertinya tidak penting. Bila orangtua ingin agar anak meminta maaf bila berbuat kesalahan, maka orangtua juga harus bersedia untuk meminta maaf kepada anak ketika ia berbuat kesalahan. Dengan demikian, orangtua akan dapat “menularkan” perilaku dan kepribadian yang positif kepada anak.


Cara lain yang juga sangat penting dalam membangun kepribadian anak adalah dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami. Pengalaman pribadi memiliki dampak yang lebih mendalam dibandingkan pengertian ataupun sekedar melihat contoh karena pengalaman umumnya lebih membekas dalam ingatan. Selain itu, bila orangtua dapat membantu anak untuk mencerna pengalamannya, maka pelajaran yang diperoleh anak dari pengalaman tersebut akan diinternalisasi oleh anak sebagai bagian dari konsep kehidupannya.


Satu hal yang perlu disadari oleh orangtua adalah bahwa dalam menolong anak membangun kepribadian yang matang, dapat dipastikan orangtua akan menemui banyak tantangan. Karenanya, orangtua perlu menyiapkan mental untuk itu. Tantangan yang paling umum adalah menghadapi kemarahan anak kepada orangtua karena menerapkan disiplin (konsekuensi dari pilihan perilaku anak) kepada anak. Dalam kondisi demikian, akan menolong bila orangtua terus mengingat bahwa sebagaimana manusia lainnya, anaknya tidaklah sempurna, dengan demikian orangtua dapat lebih menerima anak apa adanya. Selain itu, dalam kondisi demikian, akan menolong juga bila orangtua menyadari bahwa inti permasalahan yang dihadapinya bukanlah perilaku anak yang mengganggu, melainkan kepribadian anak yang belum matang. Perilaku anak hanyalah indikasi dari kepribadiannya.


Sikap yang tepat dalam kondisi seperti itu adalah meresponi anak dengan kelembutan kasih sayang sekaligus ketegasan. Bila orangtua hanya bersikap tegas tanpa kelembutan kasih sayang, maka anak akan merasakan orangtua sangat otoriter. Namun sebaliknya, bila dalam kondisi demikian orangtua hanya mengandalkan kelembutan kasih sayang tanpa ketegasan, maka orangtua akan mudah berubah pikiran sehingga anak tidak belajar untuk bertanggung jawab atas konsekuensi pilihan perilakunya. Dengan berempati kepada perasaan anak tanpa mengubah konsekuensi yang harus dihadapi oleh anak, orangtua memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dari pengalaman hidupnya.


Membangun kepribadian anak sejak dini bukanlah pekerjaan mudah karena dapat sangat menguras emosi. Kadang pengetahuan tentang apa yang sebaiknya dilakukan, tidaklah cukup karena setiap anak unik, sehingga diperlukan penyesuaian di sana-sini. Namun satu hal yang pasti, tidak ada satu pun orangtua yang tidak mengalami tantangan dalam membangun kepribadian anaknya. Dan cukup banyak orangtua yang berhasil melewati berbagai tantangan tersebut. Jadi, janganlah menyerah, demi masa depan anak-anak kita.