MEMPERSIAPKAN KEHADIRAN SANG BUAH HATI



Mempersiapkan kelahiran buah hati bukanlah hal yang mudah, terlebih bila kelahiran tersebut merupakan yang pertama kalinya bagi sang ibu. Walaupun terdapat panduan-panduan umum yang dapat diikuti, namun banyak hal yang tidak pasti terkait momen tersebut, karena perlu disesuaikan dengan konteks yang ada. Berikut adalah beberapa hal yang dapat didiskusikan atau dilakukan untuk menolong agar kehadiran sang buah hati tidak menimbulkan beban berlebih atau konflik yang tidak perlu di antara pasangan.


A. Sebelum Bayi Lahir

1. Bila sebelum melahirkan istri bekerja di luar rumah, maka perlu disepakati apakah setelah melahirkan istri akan berhenti bekerja untuk mengasuh anak penuh waktu atau hanya mengambil cuti melahirkan saja dan kemudian kembali bekerja di luar rumah.


2. Bila alternatif kedua yang dipilih, perlu disepakati siapa yang akan mengasuh sang buah hati bila istri sudah kembali bekerja. Apakah suami yang akan mengasuh anak, ataukah anak akan diasuh oleh asisten rumah tangga, atau dititipkan di daycare. Bila bayi dititipkan di daycare, bagaimana pengaturan antar jemputnya.


3. Dengan hadirnya sang buah hati, pekerjaan rumah tangga mana saja yang menjadi tanggung jawab istri dan mana yang menjadi tanggung jawab suami. Misalnya bila bayi menangis di malam hari, siapa yang akan bangun untuk menanganinya?


B. Selama Masa Pemulihan Setelah Melahirkan

Mulai berlatih menyusui sang buah hati. Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi yang terbaik bagi bayi. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila banyak ibu yang ingin menyusui buah hatinya yang baru lahir. Tentu saja itu adalah hal yang baik, karena selain menyediakan nutrisi yang baik dan ekonomis bagi sang buah hati, kegiatan menyusui juga menolong membangun ikatan emosi antara ibu dan bayi. Akan tetapi, banyak ibu baru yang tidak memahami bahwa menyusui bukanlah hal yang dapat terjadi secara natural dan mudah. Pada kenyataannya, di banyak kasus, menyusui dapat menimbulkan rasa sakit pada ibu, terutama di masa-masa awal menyusui. Hal tersebut dikarenakan menyusui merupakan ketrampilan yang perlu dipelajari dan dilatih. Agar kegiatan menyusui dapat berjalan baik, idealnya calon ibu mendapatkan bimbingan dari ahli laktasi. Atau, bisa juga hal tersebut dipelajari dari ibu lain (sanak keluarga, teman, tetangga, dan lain sebagainya) yang sudah lebih dahulu menyusui.


C. Setelah Kembali dari Rumah Sakit

1. Menyesuaikan diri dengan perubahan pola tidur. Ibu yang baru melahirkan perlu bersikap fleksibel dalam mengatur waktu tidurnya. Hal tersebut dikarenakan sampai dengan usia tiga bulan, biasanya pola tidur sang buah hati belum terlalu teratur. Bahkan tidak jarang, di malam hari bayi sulit tidur sedangkan di siang hari ia banyak tidur. Fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan karena ketika masih dalam kandungan, umumnya bayi banyak tertidur di siang hari karena terayun-ayun dalam perut ibu yang beraktivitas. Sedang di malam hari, ketika ibu lebih banyak diam, bayi tidak terayun-ayun sehingga ia lebih banyak bangun, dan tidak sedikit yang aktif menendang di dalam perut ibu di waktu malam sehingga ibu terbangun dari tidurnya. Setelah bayi lahir, ia memerlukan waktu untuk mengubah pola tidurnya tersebut. Oleh karena itu, ibu yang baru melahiran perlu menjaga dirinya dengan berusaha ikut tidur saat bayi tidur, agar ia tidak kekurangan tidur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan tidur dapat memicu munculnya berbagai gangguan, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan juga obesitas.


2. Merencanakan program penurunan berat badan yang sehat. Tidak dapat dipungkiri bahwa bentuk tubuh memiliki dampak yang cukup besar dalam berbagai aspek bagi kebanyakan wanita, termasuk aspek kepercayaan diri dan tingkat kebahagiaannya secara umum. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila banyak ibu yang ingin segera kembali ke berat badannya semula, seperti sebelum ia mengandung. Namun strategi yang terbaik dalam hal ini adalah tidak terburu-buru. Secara umum, selama 6 minggu pertama setelah melahirkan, sangatlah tidak disarankan bagi ibu yang baru melahirkan untuk mengurangi porsi makannya, terlebih bila sang ibu menyusui bayinya, karena hal itu akan mempengaruhi kuantitas maupun kualitas ASI yang diberikan kepada sang buah hati.


3. Mengusahakan waktu olahraga ringan & “me-time” secara rutin. Hal ini penting untuk diusahakan karena hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua hal tersebut dapat meningkatkan energi ibu yang baru melahirkan dan juga mengurangi resiko baby blues. Bila suami, sanak keluarga atau teman bersedia untuk mengasuh sang buah hati pada waktu-waktu tertentu dalam seminggu, maka akan baik bila hal tersebut dapat dijadwalkan secara rutin. Biasanya bila dimintai tolong, orang-orang di sekitar akan dengan senang hati menolong mengasuh bayi untuk sementara waktu. Kalaupun orang-orang di sekitar tidak dapat menolong, kedua hal tersebut masih dapat diusahakan, misalnya dengan membawa sang buah hati berjalan-jalan dengan stroller sambil mendengarkarkan musik.