MENGAJAR ANAK POLA MAKAN SEHAT



Pola hidup sehat merupakan hal yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini karena banyak manfaat yang diperoleh anak bila memiliki pola hidup yang sehat, misalnya daya tangkap anak menjadi lebih baik sehingga anak lebih mampu untuk berprestasi secara akademik, perilaku anak secara umum cenderung lebih positif serta lebih tidak mudah rewel, dan lain sebagainya. Banyak hal yang bisa dilakukan orangtua untuk membangun pola hidup sehat anak, misalnya, dengan mendorong anak untuk aktif bergerak, seperti berlari, berenang, ataupun bermain sepeda. Hal lain lain yang juga sangat penting dalam membangun pola hidup sehat anak adalah menanamkan pola makan yang sehat kepada anak.

Untuk menolong anak belajar pola makan yang sehat, orangtua dapat memanfaatkan diagram MyPlate yang dikeluarkan oleh USDA (United States Department of Agriculture) pada pertengahan tahun 2011 sebagai panduan nutrisi. Diagram tersebut menggambarkan sebuah gelas dan piring yang secara keseluruhan membentuk lima kelompok makanan dalam lima warna yang berbeda, dimana 30% terdiri dari karbohidrat, 20% protein, 30% sayur, 20% buah, dan segelas susu atau yoghurt.

Diagram MyPlate

Source : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/50/USDA_MyPlate_green.jpg


Diagram MyPlate ini sangat memudahkan orangtua untuk mengajarkan anak bahwa pola makan yang sehat terdiri dari beberapa jenis makanan yang diwakili oleh kelima warna tersebut serta proporsi dari masing-masing kategori makanan. Diagram tersebut juga sangat memudahkan orangtua maupun anak untuk memonitor asupan anak karena desainnya yang sangat sederhana dan mudah dimengerti (tidak abstrak). Cukup dengan melihat apakah proporsi asupan akan berbagai jenis makanan tersebut telah sesuai dengan anjuran pada diagram, orangtua dan anak dapat mengetahui apakah pola makan yang ada sudah cukup sehat atau belum. Misalnya, apakah setengah dari apa yang anak makan terdiri dari sayur dan buah. Dengan demikian, anak dapat lebih mudah mengerti mengapa ia perlu makan lebih banyak sayur dan buah. Dan bila pola makan yang ada ternyata belum cukup sehat, orangtua dan anak dapat dengan mudah mengetahui jenis makanan mana yang perlu disesuaikan serta proporsinya.


Tentu saja, agar dapat memiliki pola makan yang sehat, anak perlu dibantu untuk memahami masing-masing warna dalam diagram tersebut mewakili apa dan makanan apa saja yang termasuk dalam masing-masing kategori warna tersebut. Bila pembelajaran dilakukan dengan cara yang menyenangkan, umumnya anak akan dapat lebih cepat menangkap. Misalnya, orangtua dapat menyediakan gambar diagram MyPlate yang tidak berwarna sehingga anak dapat mewarnai diagram tersebut sesuai contoh. Orangtua juga dapat mengajak anak mengobrol tentang makanan-makanan yang disukainya sambil menjelaskan masing-masing makan tersebut masuk dalam kategori mana.


Selain itu, anak juga perlu dibantu untuk mengetahui pilihan yang lebih sehat dari masing-masing kategori makanan, karena hal tersebut belum terwakili dalam diagram MyPlate. Misalnya, dengan bermain tebak-tebakan, dimana anak diminta untuk menebak pilihan yang lebih sehat, antara buah apel dengan puding apel, antara french fries dengan mashed potatoes, dan seterusnya.


Pembelajaran tentang pola makan sehat juga dapat digabung dengan pembelajaran lain, misalnya dengan pengenalan nama bentuk yang sederhana, seperti segitiga, bujursangkar ataupun persegi panjang. Hal ini dapat dilakukan dengan mengobrol ataupun bermain tebak-tebakan, dimana anak menebak nama bentuk dari berbagai peralatan masak, makanan ataupun bungkus makanan, seperti kotak cereal, dan lain sebagainya. Untuk benda yang sama, anak diminta untuk menebak nama bentuknya maupun kategori dalam mana makanan tersebut berada. Misalnya sepotong roti tawar dapat dijadikan contoh untuk bentuk bujursangkar serta kelompok karbohidrat.


Tentu saja, dalam menolong anak belajar pola makan sehat, diagram MyPlate tersebut hanyalah bersifat sebagai panduan, yang perlu disesuaikan dengan berbagai faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan asupan, seperti usia, jenis kelamin dan jenis aktivitas. Kebutuhan asupan anak yang cenderung aktif bergerak tentu relatif lebih banyak dibandingkan anak yang kurang bergerak, karena kalori yang dibakar anak yang aktif bergerak lebih banyak. Namun terlepas dari itu, setiap anak perlu pola makan sehat.