MENGASUH ANAK ADOPSI



Mengasuh anak adopsi, dalam banyak hal, berbeda dengan mengasuh anak biologis. Namun, di sisi lain, dalam mengasuh anak adopsi, orangtua juga akan mengalami sukacita, kesedihan serta tantangan yang serupa dengan mengasuh anak biologis. Menyeimbangkan berbagai perbedaan dan kesamaan tersebut tidaklah mudah, namun sangat penting agar anak berkembang dengan baik. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua yang mengadopsi anak untuk mengusahakan untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin terjadi terhadap perkembangan anak.


Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah berusaha untuk mencari tahu sebanyak mungkin tentang kondisi klinis dan sosial yang dialami oleh sang anak sebelum masa adopsi, termasuk kondisi yang ada ketika ia masih dalam kandungan serta ketika dilahirkan. Hal itu akan membuat orangtua untuk merasa lebih dekat dengan sang anak dan menolong orangtua untuk dapat lebih memahami banyak hal dari sudut pandang anak.


Di samping itu, akan sangat menolong bila orangtua dapat mencari tahu tentang berbagai rutinitas yang dijalani anak dari orang-orang di sekitarnya, seperti perawat rumah sakit bila anak diadopsi tidak lama setelah dilahirkan, orangtua biologisnya bila anak sempat diasuh oleh mereka, ataupun pengasuh anak di panti asuhan bila anak sempat tinggal di sana. Orangtua mungkin tidak setuju atau memiliki pandangan yang berbeda tentang cara asuh serta rutinitas yang sebaiknya dijalani anak, namun dalam konteks ini, sangatlah menolong bagi anak bila orangtua mengusahakan agar pengalaman anak sedapat mungkin serupa dengan yang dialaminya sebelum diadopsi. Misalnya, mengusahakan rutinitas yang sama, menyediakan jenis makanan dan susu yang serupa ataupun tetap memakai botol susu dan peralatan makan yang ia pakai sebelumnya.


Selain itu, akan sangat menolong bila orangtua berusaha membawa serta pakaian dan selimut yang dipakai anak sebelum masa adopsi, karena walaupun seringkali benda-benda tersebut memiliki bau khas yang sangat familiar bagi anak. Hal ini penting, teruatama bagi anak-anak yang berusia tiga tahun ke bawah, karena bau yang diterima oleh indra penciuman akan diproses oleh bagian otak yang terkait dengan emosi. Bau yang familiar biasanya akan memberikan perasaan aman dan nyaman pada anak. Oleh sebab itu, sebaiknya benda-benda tersebut jangan langsung dicuci, tetapi disimpan di dekat anak, kemana pun ia pergi, sehingga ia merasa masih terhubung dengan lingkungannya sebelumnya. Berbagai hal ini akan menolong untuk meminimalkan stress pada anak, paling tidak selama beberapa bulan pertama, sehingga memuluskan masa adaptasinya. Namun tentu saja, bila ada perlakuan buruk yang diterima anak sebelum masa adopsi, orangtua perlu mengusahakan agar perlakuan buruk tersebut tidak berlanjut di lingkungan yang baru.


Selain mengusahakan agar masa transisi anak berlangsung selancar mungkin, pada saat yang sama orangtua juga perlu membangun ikatan emosi (attachment) antara anak dengan orangtuanya yang baru. Ikatan emosi (attachment) yang dimaksud di sini adalah suatu kondisi antara dua atau lebih individu dimana sistem fisiologis, psikologis dan perilaku mereka menjadi tersinkronisasi satu sama lain sebagai akibat dari adanya hubungan intim yang intens(Tiffany Field, 1985). Bila terbangun ikatan emosi antara anak adopsi dengan orangtua, maka terbangun pula kepercayaan anak pada orangtua sehingga anak akan merasa aman dengan orangtua adopsinya. Hal tersebut akan sangat menolong anak dalam membangun identitas diri yang positif, yang akan mempengaruhi secara positif perkembangan psiko-emosional anak serta kemampuan pengindraan maupun motorik anak. Beberapa penelitian juga sudah membuktikan bahwa ikatan emosi yang positif merupakan dasar bagi pembentukan kemampuan anak untuk belajar. Hal tersebut dikarenakan, otak manusia yang mengatur emosi terhubung langsung dengan otak yang mengatur kemampuan berpikir. Oleh sebab itu, penting bagi orangtua untuk mengusahakan adanya ikatan emosi yang positif dengan anak.


Untuk membangun ikatan emosi dengan anak adopsi, orangtua dapat melakukannya dengan memenuhi kebutuhan primer anak, seperti makanan ataupun pakaian yang nyaman, serta memberikan sentuhan fisik sebagai bentuk ekspresi kasih seperti mengelus, memeluk ataupun menggendong. Umumnya anak akan meresponi hal-hal tersebut dengan positif. Namun perlu disadari bahwa dalam beberapa kasus, anak mungkin menunjukkan gejala yang berlawanan, dimana ia cenderung mendorong orangtua menjauh ataupun terus menerus menangis atau berteriak ketika orangtua melakukan hal-hal tersebut, tanpa ada alasan yang jelas. Bila selama berbulan-bulan anak terus- menerus mengindikasikan bahwa ia tidak dapat menikmati hubungan dengan orangtua, walaupun orangtua sudah mengusahakan berbagai hal tadi, orangtua perlu mewaspadai adanya gangguan perkembangan ataupun gangguan emosional pada anak.


Kemungkinan tersebut perlu diwaspadai karena penelitian telah mengindikasikan bahwa banyak anak adopsi yang bergumul dengan berbagai isu perkembangan ataupun emosonal, termasuk anak yang diadopsi sejak bayi. Hal tersebut dikarenakan banyak anak adopsi pernah mengalami luka psikis baik akibat penolakan ataupun kekerasan oleh orangtua biologisnya. Namun, cara masing-masing anak adopsi meresponi luka psikis tersebut sangat beragam, dan seringkali tidak banyak dimengerti, termasuk oleh orangtua yang mengadopsinya. Beberapa anak adopsi lebih tough dibanding yang lainnya, sehingga relatif dapat mengatasi luka psikisnya dengan baik. Beberapa yang lain meresponi luka psikisnya dengan menyakiti hati orang lain, terutama orangtua yang mengadopsinya. Mereka ini seperti landak yang di dalamnya sangat lemah, namun di luar sangat keras dan berduri. Oleh karena itu, bila gejala penolakan dari anak yang diadopsi terus terjadi tanpa alasan yang jelas, akan baik bila orangtua meminta bantuan professional dari psikolog ataupun konselor.