MENGENAL PENDIDIKAN MONTESSORI



Belakangan ini, semakin menjamur sekolah-sekolah, yang mengklaim menggunakan konsep Montessori, terutama di kota-kota besar. Dan karena label Montessori tersebut, mereka memasang harga yang cukup tinggi untuk biaya pendidikan per anak. Orangtua yang awam tentang pendidikan Montessori, tentunya sulit membedakan mana sekolah yang sungguh-sungguh menggunakan konsep Montessori, dan mana yang tidak. Untuk itu, marilah kita tinjau pendidikan Montesssori ini lebih jauh.


Pendidikan Montessori dipelopori oleh Dr. Montessorri. Fokus pendidikan Montessori awalnya adalah pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Konsep pendidikan yang diajukannya cukup radikal pada masanya, dan bahkan mungkin oleh beberapa kalangan di masa kini pun masih dinilai radikal. Dr. Montessori percaya bahwa setiap manusia hanya dapat dididik oleh dirinya sendiri. Untuk itu, setiap manusia harus memiliki kesukaan dan motivasi belajar dari dalam dirinya sendiri. Oleh karenanya, Dr. Montessori berpendapat bahwa seharusnya tujuan utama pendidikan anak usia dini adalah untuk menanamkan kesukaan belajar pada anak, bukan mengisi anak dengan pengetahuan.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa otak anak balita itu seperti sponge yang menyerap stimulasi apa pun dari lingkungannya. Hal ini jelas terlihat pada cara seorang balita mempelajari bahasa ibunya, dimana hal tersebut terjadi tanpa suatu program yang formal dan tanpa usaha yang besar dari pihak orangtua untuk mengajarkan bahasa kepada balita tersebut. Sama seperti seorang anak mempelajari bahasa ibunya, Dr. Montessori percaya bahwa proses pembelajaran apapun pada anak balita seharusnya terjadi secara alami dan menyenangkan. Dengan demikian, konsep pendidikan Montessori berfokus pada meciptakan kebebasan dan kenyamanan bagi anak untuk mengeksplor lingkungan yang diperlengkapi dengan berbagai perlengkapan edukatif yang menarik serta mudah diakses oleh anak.


Untuk itu, rak-rak penyimpanan di kelas Montessori umumnya rendah, sehingga mudah diakses oleh anak, serta meja-kursinya tidak tertanam permanen di lantai, sehingga pengaturannya bisa menyesuaikan dengan berbagai aktivitas yang diadakan. Selain itu, kelas Montessori umumnya juga mengakomodasi anak untuk duduk di lantai dengan menyediakan matras-matras dalam kelas. Hal alin yang membedakan kelas Montessori dengan kelas konvensional adalah tidak adanya meja guru yang biasanya menjadi pusat di kelas konvensional. Hal tersebut dikarenakan, dalam kelas Montessori, stimulasi untuk belajar diharapkan datang dari lingkungan kelas secara menyeluruh.


Peran guru pun berbeda. Di kelas Montessori, peran guru lebih sebagai pengamat akan kebutuhan dari masing-masing anak serta sebagai penstimulasi minat anak, karena hal itulah yang mendasari tindakan guru dalam kelas, bukan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya. Guru yang mengikuti konsep Montessori akan memperhatikan tingkat kemajuan masing-masing anak dan kesiapan anak untuk belajar. Ia juga berperan sebagai pemberi semangat bagi anak yang takut untuk mencoba dan sebagai pengalih perhatian ketika anak ingin memilih beraktivitas dengan material yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kemampuannya sudah di atasnya.


Dalam kelas pun anak-anak umumnya dibebaskan untuk memilih sendiri material yang ingin dieksplor. Dengan demikian, anak satu dan lainnya mungkin sekali mempelajari materi yang berbeda pada satu masa yang sama, tergantung minat mereka masing-masing. Dan karenanya, dalam kelas Montessori kompetisi sangatlah minim. Seorang anak dinilai berdasarkan perkembangannya sendiri, dan tidak dibanding-bandingkan dengan perkembangan anak lain dalam kelasnya. Hal tersebut juga didorong oleh keyakinan Dr. Montessori bahwa kompetisi dalam edukasi sebaiknya ada setelah anak memperoleh kepercayaan diri yang cukup dalam hal-hal dasar.


Sistem kelas yang demikian juga mengakomodasi beberapa tingkatan usia dan kemampuan secara sekaligus, karena Dr. Montessori percaya bahwa anak-anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Anak yang berusia lebih muda ataupun yang lebih lambat belajar, dapat mempelajari sesuatu hal dalam periode yang lebih lama tanpa mengganggu kemajuan belajar anak lainnya. Sebaliknya, anak yang cepat belajar juga dapat dengan cepat berpindah dari pelajaran satu ke pelajaran berikutnya, dari satu tantangan ke tantangan berikutnya, sehingga ia tidak merasa bosan di kelas. Dengan demikian, belajar tidaklah menjadi beban, melainkan menjadi sesuatu yang meyukakan hati anak.


Selain itu, anak juga diijinkan untuk berbicara dan berpindah tempat di dalam kelas, selama tidak mengganggu temannya. Dalam kelas Montessori ketertiban tidaklah berarti ketenangan, sebagaimana pada kelas-kelas konvensional. Menurut Dr. Montessori ketenangan bukanlah sesuatu yang seharusnya dipaksakan kepada anak, melainkan ketenangan adalah sesuatu yang harus diusahakan oleh guru dengan membuat anak terserapnya perhatian dan minatnya pada apa yang dipelajarinya.


Dalam kelas Montessori, materi yang diberikan ke anak tidaklah semata-mata yang bersifat akademis, tetapi juga materi practical life skill, yang biasanya digabungkan dengan latihan motorik dan ketajaman indra anak. Hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menyemir sepatu, membersihkan meja, ataupun membawa air dari wastafel dan menuangkannya ke dalam ember, dimanfaatkan oleh pendidikan Montesori untuk mengoptimalkan koordinasi motorik anak dan ketajaman indra anak.


Dengan demikian, program kelas Montessori sesungguhnya memiliki banyak keunggulan. Hanya sayangnya, karena fokus awalnya adalah pada pendidikan anak usia dini, maka kebanyakan Sekolah yang menggunakan konsep Montessori adalah sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Akibatnya, seorang anak yang disekolahkan di TK Montessori umumnya akan sulit mencari sekolah lanjutan, dalam hal ini, Sekolah Dasar, yang juga menggunakan konsep pendidikan serupa. Dan banyak yang akhirnya masuk ke sekolah konvensional, dan mengalami masa adaptasi yang tidak mudah.