MENJALANKAN PERAN AYAH



Kebutuhan seorang anak akan sosok ayah sesungguhnya sama besarnya dengan kebutuhannya terhadap sosok ibu. Sayngnya, hal ini kurang disadari oleh para ayah karena adanya mispersepsi di banyak budaya, yang menyatakan bahwa peran ayah tidaklah terlalu besar ketika anak masih balita sebab pada masa tersebut anak lebih membutuhkan sosok ibu untuk mengasuh dan membesarkannya. Padahal, kebutuhan seorang anak terhadap sosok ayah sudah ada sejak awal keberadaan anak.


Peran Ayah Saat Anak Dalam Kandungan

Mispersepsi tadi seringkali mengakibatkan hubungan ayah - anak dimulai di titik yang kurang ideal, karena idealnya, keterlibatan seorang ayah dengan anaknya sudah dimulai sejak anak masih dalam kandungan. Hal itu disebabkan saat anak masih dalam kandungan, walaupun para ayah tidak mengalami perubahan fisik sebagaimana para ibu, mereka akan mengalami perubahan psikis. Disadari atau tidak, pada masa itu, benak sang ayah akan diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan terkait kemampuannya untuk menjadi ayah yang baik bagi sang anak, perubahan gaya hidup yang akan terjadi dan akan seperti apa anaknya nanti bila sudah lahir dan dewasa nanti. Sayangnya, kebanyakan pria tidak merasa nyaman untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya terkait hal-hal tersebut. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, saat anak berada dalam kandungan, para pria tanpa sadar mengurangi pembicaraan dengan sang istri agar berbagai harapan dan kekhawatirannya tidak muncul ke permukaan.


Untuk menyiasati hal tesebut dan membangun koneksi emosi dengan anak sejak awal, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh para ayah saat anak masih dalam kandungan, antara lain :

  1. Berbicara kepada anak sejak ia masih dalam kandungan. Berbagai hasil penelitian mengindikasikan bahwa bayi bereaksi & merasa nyaman dengan suara yang sering didengarnya ketika ia masih berada dalam kandungan. Kenyamanan mendengar suara ayah akan memberikan kesan awal yang baik pada anak akan sang ayah.

  2. Membicarakan dengan pasangan tentang berbagai pikiran dan perasaan yang muncul terkait keberadaan sang anak, walaupun mungkin sepertinya sepele ataupun sentimental. Selain membuat ayah merasa lebih siap menerima kehadiran sang anak, hal tersebut juga akan memperkuat ikatan emosi antara suami dengan istri.

  3. Menemani istri ke dokter kandungan. Melihat gambar sang anak melalui USG akan membuat peran ayah menjadi lebih nyata sehingga dapat mendorong calon ayah untuk membicarakan hal-hal terkait keberadaan anak dengan pasangan.


Peran Ayah Saat Anak Berusia 0-2 Tahun

24 jam pertama setelah anak dilahirkan merupakan kesempatan emas bagi ayah untuk membangun koneksi emosi dengan anak. Beberapa hasil penelitian mengindikasikan bahwa para ayah yang mendapat kesempatan untuk melihat, menggendong dan meresponi bayinya dalam periode 24 jam setelah sang bayi dilahirkan cenderung memiliki ikatan emosi yang sama terhadap bayi sebagaimana ikatan emosi yang timbul pada para ibu terhadap bayi yang baru dilahirkannya.


Oleh karena itu, akan baik bila sejak awal bayi dilahirkan, para ayah juga meluangkan waktu untuk membangun ikatan emosi dengan anaknya. Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa hal ini dapat membantu meminimalkan kemungkinan munculnya masalah psikologis pada anak di kemudian hari, karena tindakan tersebut menciptakan pondasi yang kuat bagi kepercayaan sang anak kepada ayah. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh para ayah untuk itu :

1. Usahakan untuk mengadakan kontak fisik yang konsisten dengan anak dengan cara menggelitik ataupun memijatnya selama paling tidak lima menit setiap hari.

2. Sedapat mungkin mengajak anak berpergian bersama, baik dengan kendaraan ataupun sekedar jalan-jalan dalam stroller atau gendongan bayi. Anak di kelompok usia ini sudah dapat menikmati perubahan suasana dan pemandangan.

3. Bergantian dengan istri untuk mengganti popok atau pamper anak dan untuk menggendong ataupun bersenandung untuk anak bila ia menangis.

4. Belajar memandikan dan memakaikan baju anak. Hal ini juga memberikan kesempatan pada ayah untuk mengenal preferensi anak akan warna maupun jenis pakaian.

5. Berbicara dengan anak atau bacakan anak cerita. Walaupun di kelompok usia ini anak kemungkinan belum memahami makna kata-kata sepenuhnya, hal ini akan membuat anak merasa nyaman mendengar suara ayah sehingga membantu menciptakan koneksi emosi.


Peran Ayah Saat Anak Berusia 2-6 Tahun

Pada masa ini, anak sedang sangat aktif dan pemahamannya akan dunia sekitarnya serta moralitas (benar – salah) sedang berkembang. Karenanya, mereka suka sekali mengeksplor segala sesuatu. Selain itu, anak dalam kelompok usia ini umumnya mulai menunjukkan sikap keras kepala dengan intesitas yang berbeda-beda dan cenderung mudah mengalami perubahan suasana hati (mood swing). Para ayah perlu menyadari bahwa ketika sifat-sifat tadi muncul, itu tidaklah berarti bahwa sang anak sulit diurus, melainkan ia sedang dalam tahap perkembangan yang normal. Salah satu hal terutama yang perlu diusahakan bagi anak kelompk usia ini adalah menciptakan keseimbangan antara kebebasan mengeksplor dengan batasan bagi sang anak. Berikut adalah beberapa langkah untuk itu :

  1. Ajak anak ke taman atau tempat outdoor lainnya dimana ia bisa bermain dan mengeksplor lingkungan sekitarnya dengan bebas, namun tetap di bawah pengawasan ayah. Hal ini akan menciptakan perasaan aman dan nyaman dalam diri anak terhadap keberadaan sang ayah.

  2. Ajak anak untuk melakukan tugas rumah bersama seperti menyiram tanaman atau mencuci mobil. Anak dalam kelompok usia ini umumnya senang bersikap seperti orang dewasa.

  3. Usahakan untuk meresponi berbagai pertanyaan anak dengan positif, walaupun mungkin pertanyaan tersebut sepertinya bodoh atau tidak masuk akal. Meski anak mungkin belum dapat memahami sepenuhnya penjelasan sang ayah, namun ia akan melihat bahwa sang ayah menanggapinya dengan serius, sehingga ia akan merasa bebas bertanya tentang hal-hal lain.