PERAN ORANGTUA TERHADAP PEMAHAMAN GENDER



Disadari atau tidak, anak menyerap apa yang diajarkan oleh lingkungannya, termasuk dalam hal gender. Terkait itu, lingkungan anak yang pertama dan terutama tentunya adalah orangtua. Disadari atau tidak, anak akan cenderung meniru model peran gender yang ditunjukkan oleh orangtuanya dalam kehidupan sehari-hari. Anak laki-laki akan meniru model peran gender dari sang ayah, sedang anak perempuan meniru model peran gender dari sang ibu. Selain model gender, pola asuh orangtua merupakan salah satu hal yang juga sangat berpengaruh terhadap pemahaman anak tentang maskulinitas dan femininitas, serta berbagai perilaku terkait itu.


Tidak dapat dipungkiri, memang terdapat perbedaan umum dalam cara orangtua membesarkan anak laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut bahkan terjadi sejak anak dilahirkan. Misalnya, bila bayi yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan, maka biasanya kamar bayi akan diberi nuansa warna merah muda, dan bila yang dilahirkan adalah anak laki-laki umumnya kamarnya akan diberi nuansa warna biru. Model pakaian yang dipilihkan orangtua untuk sang anak pun umumnya berbeda. Hal tersebut tanpa disadari memberikan input terhadap anak tentang apa yang sesuai bagi anak laki-laki dan apa yang sesuai bagi anak perempuan.


Peran orangtua dalam membentuk pemahaman gender anak tentu tidak hanya terbatas pada pemilihan warna. Permainan yang dibelikan orangtua untuk anak pun berpengaruh terhadap pemahaman gender anak. Anak laki-laki biasanya lebih sering menerima mainan bertema transportasi (truk, kereta, dan lain sebagainya), konstruksi (misalnya miniatur alat-alat membangun gedung), dan mainan yang bersifat agresif (senjata, pedang, dan seterusnya). Sedang anak perempuan umumnya lebih sering menerima mainan berupa boneka ataupun permainan bertema kegiatan domestik rumah tangga (rumah boneka, mainan peralatan memasak, dan lain sebagainya). Selain itu, sebuah penelitian telah membuktikan bahwa para ayah umumnya lebih cenderung melakukan permainan yang “kasar” dan bersifat fisik (misalnya bermain gulat) bersama anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Terhadap anak perempuan, para ayah umumnya lebih memilih membacakan cerita untuk bonding. Dengan demikian, anak menerima input dari orangtua tentang jenis permainan bagaimana yang sesuai bagi anak laki-laki dan jenis permainan bagaimana yang sesuai bagi anak perempuan.


Aspek lain yang juga mempengaruhi pemahaman anak tentang gender adalah self-socialization (Kohlberg, 1966). Selain meresponi input dari lingkungan eksternal tentang gender, anak sesungguhnya juga secara aktif berusaha untuk memahami hal tersebut sesuai perkembangan kemampuan kognitifnya. Ketika seorang anak memasuki usia sekitar dua tahun, pada umumnya dalam diri anak mulai terbentuk kemampuan untuk melabel dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, dan secara bawah sadar, dalam dirinya muncul usaha untuk memahami apa yang dimaksud dengan laki-laki atau perempuan. Selain itu, dalam diri anak juga mulai muncul dorongan untuk berperilaku sebagaimana individu lain yang memiliki gender yang sama seperti dirinya. Fenomena tersebut dimungkinkan karena anak memiliki kemampuan untuk membentuk konsep diri, termasuk konsep diri dalam hal gender, yang dikenal dengan istilah gender self-concept. Gender self-concept yang dimiliki anak memiliki peran yang besar sebagai standar akan perilakunya terhadap diri sendiri maupun orang lain.


Gender self-concept tersebut tidak hanya mempengaruhi perilaku anak, tetapi juga perasaan anak terhadap dirinya sendiri. Ketika anak memasuki usia sekitar empat tahun, anak mulai memiliki kemampuan untuk mengevaluasi dirinya berdasarkan gender self-concept yang ia miliki. Anak laki-laki umumnya akan merasa bangga bila ia mampu melakukan suatu aktivitas yang maskulin, seperti menendang bola sehingga masuk ke gawang lawan. Sebaliknya, umumnya anak laki-laki akan merasa malu melakukan aktivitas yang dinilai oleh teman-temannya feminin, seperti bermain rumah boneka, misalnya.


Dengan demikian, terdapat hubungan yang dinamis antara input dari orangtua melalui pola asuh yang diberikan dengan self-socialization anak akan input tersebut. Hubungan yang dinamis tersebut akan memberikan pengaruh terhadap pembentukan pemahaman gender anak (gender self-concept). Contohnya, ketika anak melakukan permainan yang dipandang tidak sesuai dengan gendernya, tidak jarang orangtua akan mencemooh atau memaksa anak memilih permainan yang dipandang lebih sesuai. Contoh lain adalah kecenderungan orangtua untuk mendorong anak laki-laki menekan ekspresi emosinya. Bila seorang anak laki-laki menangis, tidak sedikit orangtua yang mengatakan, “Anak laki-laki tidak pantas menangis”. Berbagai input dari orangtua tersebut akan diserap anak dan diproses melalui self-socialization sehingga menghasilkan gender self-concept yang termodifikasi dari sebelumnya.


Berbagai hal yang dikatakan dan dilakukan orangtua terhadap anak berpengaruh terhadap pembentukan gender self concept anak. Oleh karena itu, orangtua perlu berhati-hati terhadap apa yang ia katakan, berikan dan lakukan terhadap maupun bersama anak, agar mengarahkan anak pada pembentukan gender self concept yang sehat. Selain itu, orangtua juga perlu mewaspadai pergaulan anak, karena selain dari pola asuh orangtua, anak juga mengembangkan pemahaman gendernya melalui pembelajaran sosial. Kewaspadaan tersebut perlu lebih ditingkatkan terhadap anak laki-laki karena penelitian telah mengindikasikan bahwa dalam pergaulan dengan teman sebayanya, anak laki-laki umumnya lebih memiliki tekanan sosial dari teman sebaya. Misalnya, anak laki-laki yang terlibat dalam permainan yang bersifat feminin cenderung dijuluki ‘banci’ oleh teman laki-lakinya. Sedang anak perempuan biasanya lebih toleran terhadap terhadap teman sebayanya yang terlibat dalam permainan yang bersifat maskulin. Selain pertemanan dengan teman sebaya, pandangan dan perilaku tokoh masyarakat yang dikagumi anak serta pemberitaan media massa juga perlu diwaspadai orangtua karena itu semua memberikan pengaruh terhadap gender self concept anak dan perilaku terkait itu.