PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BICARA ANAK



Orangtua pada umumnya akan khawatir bila buah hatinya lambat berkembang dalam kemampuan berbicara. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat variasi yang besar di antara anak-anak normal dalam hal kecepatan kemampuan berbicara. Untuk menentukan apakah tingkat kecepatan seorang anak dalam kemampuan berbicara sudah perlu dikahwatirkan atau tidak, orangtua perlu mengenal tahap perkembangan bahasa dan interaksi sosial anak serta pengaruh stimulus pada anak.


Di minggu-minggu pertama kehidupan anak, interaksi anak dengan orangtua umumnya berupa pertukaran ekspresi emosi melalui komunikasi non-verbal dalam bentuk kontak mata serta berbagai perubahan kondisi emosional anak. Ketika anak memasuki usia 6 – 8 minggu, interaksi tersebut mulai lebih kaya karena di usia tersebut anak sudah mulai mampu memberikan respon berupa senyuman yang menghangatkan hati orangtua. Di usia ini anak juga umumnya sudah mulai dapat menghasilkan bunyi ‘uuu’ sebagai ekspresi perasaan nyaman yang dialaminya. Lebih jauh lagi, mulai usia 3 – 6 bulan, anak mulai dapat menunjukkan preferensinya terhadap obyek tertentu melalui tatapan. Sejak usia tersebut, anak juga mulai mampu meresponi interaki sosialnya dengan ekspresi wajah yang lebih bervariasi dan putaran kepala. Di usia ini, anak juga umumnya mulai dapat menghasilkan suara tertawa.


Menginjak 8 – 10 bulan, anak umumnya sudah mulai mampu untuk mengekspresikan responnya dengan mengkoordinasikan tatapan mata dengan suara dan gerakan tangan secara bersamaan. Kemampuan untuk menunjuk sesuatu dengan jari telunjuk untuk mengekspresikan minatnya terhadap benda tersebut merupakan salah satu tonggak perkembangan anak di masa ini. Kemampuan ini biasanya dibarengi dengan kemampuan untuk mengikuti dengan tatapan, obyek yang ditunjukkan kepada sang anak. Pada masa inilah anak mulai dapat diajarkan untuk mengenal nama-nama benda dengan cara menunjukkan kepada anak benda tersebut dan menyebutkan namanya. Umumnya, pembelajaran akan nama-nama benda ini akan lebih efektif bila dilakukan secara berulang-ulang dengan frekuensi yang cukup sering, dalam konteks lingkungan fisik dan rutinitas yang sudah cukup dikenal anak.


Pada masa ini, anak sudah mulai dapat mengingat kata yang bersuku kata satu atau dua dalam mengenali benda. Kata ‘mama’ atau ‘papa’ merupakan contoh kata yang umum diingat anak pada masa ini. Di usia ini, anak umumnya juga sudah mulai mampu untuk mengingat kata yang bersuku kata satu atau dua dalam memberikan respon tertehadap kata tertentu, misalnya bagaimana merespon kata “tepuk tangan’ atau ‘bye’bye’ dengan gerakan tangannya.


Ketika anak melewati tahun pertamanya, umumnya ia sudah mampu untuk mengenali benda-benda yang sering dilihatnya. Anak juga biasanya sudah mulai mampu untuk mengucapkan kata-kata tanpa arti bersuku satu, dibarengi dengan gerakan tubuh, untuk mengekspresikan perasaan dan keinginannya. Beberapa anak bahkan sudah mulai mampu mengucapkan kata-kata yang memiliki arti di masa ini. Yang perlu diingat oleh orangtua adalah fakta bahwa usia dimana anak pertama kali dapat mengucapan kata yang memiliki arti, sangatlah bervariasi, bahkan di antara kakak dan adik yang diasuh dalam keluarga yang sama. Hal tersebut dikarenakan setiap anak merupakan individu yang unik.


Ketika anak menginjak usia dua tahun, umumnya ia akan mampu mengenali kata-kata baru dengan lebih cepat dan biasanya ia akan mulai mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap percakapan yang menarik minatnya. Selain itu di usia ini anak umumnya menyebut dirinya dengan nama diri. Saat bermain tidak jarang anak di usia ini seperti bercakap-cakap dengan dirinya sendiri dengan kata-kata yang mungkin tidak dapat dipahami oleh orangtua. Fenomena tersebut merupakan sesuatu yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan oleh orangtua. Umumnya kebiasaan tersebut akan hilang seiring dengan bertambhanya usia anak. Di masa ini anak umumnya juga sudah mulai dapat mengucapkan frasa yang terdiri dari dua kata seperti “Mama, mau”. Namun demikian, penelitian telah menemukan bahwa terdapat sekitar 10% anak yang baru mampu melakukan hal tersebut di usia tiga tahun, dan hal itu masih dipandang normal oleh para ahli perkembangan bicara.


Ketika anak memasuki usia tiga tahun, umumnya perbendaharaan kata anak sudah mulai banyak. Di usia ini umumnya anak sudah mampu untuk memahami makna kata depan (di dalam, di atas, di bawah), kata kerja yang umum seperti makan dan berlari, serta kata yang merujuk pada ukuran benda seperti besar dan kecil. Mulai usia tiga tahun anak juga sudah mulai dapat mengenal warna dan bentuk yang sederhana. Mulai usia tersebut mereka juga semakin banyak menggunakan kata-kata daam bentuk kalimat sederhana untuk mengekpresikan dirinya.


Memasuki usia empat tahun, anak umumnya mulai mampu menceritakan ulang sebuah cerita sederhana serta mulai dapat menggunakan anak kalimat dalam berkomunikasi, misalnya, “Sehabis makan siang, aku mau pergi main di luar”. Ini adalah salah satu tonggak penting dalam perkembangan kemampuan berbicara anak, dimana mulai tahap ini anak akan semakin mampu untuk terlibat dalam percakapan dengan individu lain, termasuk orang dewasa.


Rentang usia 2 – 9 tahun merupakan masa dimana kemampuan berbicara anak sedang berkembang dengan pesat. Pada masa ini, beberapa anak mungkin menunjukaan gejala gagap ketika berbicara, terutama saat emosi yang dialaminya sangat intens, baik emosi positif maupun negatif. Fenomena terebut tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena kelancaran berbicara merupakan salah satu ketrampilan yang akan berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Akan tetapi, bila di dalam keluarga pohon keluarga terdapat sejarah kegagapan dalam berbicara, atau bila anak terlihat tegang saat berusaha berbicara, tidak ada salahnya bila orangtua membawa anak untuk menemui profesional yang menangani kasus demikian sebagai langkah preventif.