POLA ASUH SESUAI KECENDERUNGAN ANAK



Setiap anak dilahirkan dengan preferensi-preferensi tertentu yang akan terus dibawanya sampai dewasa. Misalnya, ada anak yang terlahir dengan kecenderungan suka bergaul, ada yang terlahir dengan kecenderungan lebih suka menyendiri, dan lain sebagainya. Fakta bahwa manusia terlahir dengan kecenderungan yang berbeda-beda memiliki implikasi yang signifikan terhadap pola asuh. Hal itu berarti, dalam membesarkan anak, orang tua harus berusaha mengenali kecenderungan bawaan anak agar dapat menyesuaikan pola asuhnya terhadap anak tersebut sehingga meminimalkan konflik orang tua – anak dan membuat hubungan orang tua- anak lebih harmonis.


Salah satu panduan yang banyak dipakai untuk mengerti tentang berbagai kecenderungan manusia adalah Myer-Briggs Type Indicator (MBTI). Panduan ini juga dapat dipakai oleh orang tua untuk mengenali dan mengerti kecenderungan anak. Myer-Briggs membagi kecenderungan seseorang berdasarkan empat aspek, dimana masing-masing aspek terbagi atas dua kategori sebagai berikut :


1. Kecenderungan dalam memperoleh energi : Extrovert (E) vs Introvert (I)

Anak dengan kecenderungan extrovert memperoleh energinya dari bersosialisasi dengan orang lain dan umumnya senang menjadi pusat perhatian. Sedang anak introvert memperoleh energinya dari waktu menyendiri dan umumnya lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Implikasinya, antara lain, orang tua dari anak yang extrovert perlu menyiapkan diri untuk dapat lebih banyak menemani anak ketika ia sedang capek ataupun bad mood; sedang orang tua dari anak yang introvert perlu menyiapkan diri untuk tidak merasa tertolak bila anak memilih menyendiri dibandingkan ditemani orang tua bila energi emosinya sedang rendah.

2. Kecenderungan dalam mengelola informasi : Sensing (S) vs Intution (N)

Anak dengan kecenderungan sensing biasanya dalam mengelola informasi berorientasi pada fakta yang ada saat itu, sedang anak dengan kecenderungan intuition dalam mengelola informasi berorientasi pada kemungkinan di masa depan. Selain itu, anak sensing umumnya tekun mendalami suatu bidang menuju kesempurnaan, sedang anak intuition lebih senang mempelajari hal-hal baru sehingga seringkali mudah bosan. Salah satu implikasi dari kecenderungan dalam aspek ini adalah orang tua dari anak yang sensing sebaiknya tidak terlalu mendorong anaknya untuk mengeksplor hal-hal baru di luar minat anak. Sebaliknya orang tua dari anak yang intuition perlu memberi kebebasan yang lebih kepada anak untukmengeksplor hal-hal baru dan tidak terlalu menuntut anak untuk tekun mendalami bidang tertentu saja.


3. Kecenderungan dalam mengambil keputusan : Thinking (T) vs Feeling (F)

Anak dengan kecenderungan thinking umumnya sering menilai secara “hitam-putih” dan lebih mengedepankan logika dalam mengambil keputusan sehingga kadang terlihat tidak sensitif terhadap perasaan orang lain. Sebaliknya, anak dengan kecenderungan feeling biasanya lebih mengedepankan hubungan yang harmonis dengan orang lain, sehingga kadang mudah dimanipulasi oleh orang lain. Implikasinya terhadap pola asuh antara lain adalah, orang tua dari anak yang thinking perlu menyiapkan diri untuk memenuhi janjinya kepada anak walaupun mungkin ia sedang capek, misalnya, karena umumnya bagi anak thinking, janji harus ditepati apapun konsekuensinya. Sebaliknya, anak feeling mungkin lebih mudah mengerti kondisi dan perasaan orang lain, namun orang tua perlu lebih berupaya agar anak tidak dimanipulasi oleh teman-temannya akibat kecenderungan “people-pleaser” yang dimilikinya.


4. Kecenderungan dalam menjalani hidup : Judging (J) vs Perceiving (P)

Anak dengan kecenderung judging menyukai kehidupan yang terstruktur dan biasanya mengutamakan penyelesaian suatu tugas ataupun sesuatu yang telah ia mulai. Sedang anak dengan kecenderungan perceiving biasanya lebih menyukai kehidupan yang fleksibel dan spontan serta lebih mengutamakan hal-hal yang menyenangkan hati. Implikasinya terhadap pola asuh, antara lain adalah orang tua dari anak judging sebaiknya membuatkan jadwal kegiatan harian yang dapat diterapkan anak secara rutin. Sedang bagi anak perceiving, sebaiknya orang tua lebih memberikan kebebasan untuk menyusun jadwal aktivitasnya selama hal-hal yang perlu ia kerjakan dapat ia selesaikan dengan cukup baik.

Nah, termasuk dalam kategori manakah anak anda?