DUNIA REMAJA PUTRI MASA KINI



Masa remaja merupakan masa kompleks dan yang penuh warna, karena pada masa tersebut anak mengalami banyak sekali perubahan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila banyak orangtuayang merasa gamang dalam menjalani hubungan dengan anak remajanya, karena kurang bekal pengetahuan tentang apa yang sebenarnya dipikirkan dan dirasakan oleh anaknya yang kini sudah remaja. Terlebih lagi, perubahan yang dialami oleh remaja tidaklah bersifat seragam. Perubahan yang dialami oleh remaja putri berbeda dengan perubahan yang dialami oleh remaja putra. Perbedaan ini tidak hanya meliputi aspek fisik, melainkan juga aspek kognitif (pemikiran) dan sosial-emosional.


Bagi remaja putri, penampilan fisik yang menarik, tidak hanya terkait dengan penerimaan dari teman sebaya, melainkan juga terkait dengan hal-hal lain, misalnya kepemimpinan. Dalam memilih pemimpin, biasanya disadari atau tidak, remaja putri akan mempertimbangkan penampilan fisik calon pemimpinnya. Hal tersebut dikarenakan, bagi mereka, kepemimpinan lebih terkait dengan bentuk-bentuk ekspresi yang feminin, seperti penampilan fisik yang menarik, selain kepribadian yang suka menolong dan perhatian terhadap orang lain serta popularitas di antara teman sebaya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bila remaja putri memberikan perhatian yang relatif besar terhadap penampilan fisiknya maupun penampilan fisik orang lain, termasuk penampilan fisik orangtua.


Hal tersebut semakin diperkuat dengan budaya modern yang sangat kritis terhadap penampilan fisik wanita yang menjadi figur publik. Dalam budaya kota besar masa kini, penampilan fisik wanita yang menjadi figur publik, sangat mudah dan sering dimonitor dan dikomentari, baik oleh pria maupun wanita lain, terlebih bila ia masih berusia muda. Hal tersebut mendorong terbangunnya persepsi dalam diri remaja putri bahwa penampilan fisiknya merupakan sesuatu yang bersifat “publik”, yang harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan komentar yang negatif.


Selain penampilan fisik, hal lain yang juga mendominasi perhatian remaja putrid adalah hubungan dengan teman sebaya atau yang banyak dikenal dengan istilah peer group. Hal tersebut dikarenakan, bagi remaja putri, peer group merupakan konteks dimana mereka saling belajar, mencoba dan berlatih menjadi seorang wanita dewasa (Lave & Wenger, 1991). Masing-masing peer group akan mencoba hal-hal yang berbeda terkait aspek wanita dewasa, tergantung dari budaya lokal serta kelas sosial-ekonomi mereka. Ada yang mendekatinya dari aspek pakaian yang dikenakan, makanan yang dikonsumsi, pemilihan teman bergaul, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya, ekspresi identitas peer group dimana remaja putri tersebut ada, seringkali diadopsi menjadi ekspresi identitasnya.


Bentuk ekspresi identitas tersebut, juga dipengaruhi oleh norma tentang femininitas yang terus mengalami modifikasi dari masa ke masa. Pada masa kini, deskripsi femininitas semakin banyak mengakomodasi dan mengadopsi hal-hal yang pada generasi sebelumnya merupakan ranah maskulinitas. Hal ini terlihat dari semakin banyak wanita yang masuk dan berprestasi dalam dunia olahraga maupun hiburan. Selain itu, berbagai tokoh dalam cerita-cerita yang muncul di televisi maupun layar lebar, semakin banyak yang menggambarkan wanita yang aktif, asertif, mandiri dan sukses sehingga tidak terlalu membutuhkan keberadaan pria untuk berbahagia.


Menghadapi konteks dimana batas femininitas terus didorong untuk meluas, tentu diperlukan keterlibatan orangtua untuk secara bijaksana menolong remaja putrinya agar dapat memutuskan ekspresi femininitas yang sesuai bagi mereka. Dalam hal ini, sedapat mungkin remaja putri didorong untuk mengevaluasi dan memilih sendiri bentuk ekspresi identitas yang akan dicoba, untuk membangun kemampuannya untuk memilih dan sikap konsekuen dengan pilihannya.


0 views