MENGENALI KESALAHAN BERKATA PADA ANAK



Semua manusia pasti pernah mengalami kesalahan dalam berkata (slip of tongue), dimana ketika bermaksud mengucapkan suatu kata, frasa ataupun kalimat tertentu terjadi kesalahan sehingga kata / frasa / kalimat yang diproduksi tidak sesuai dengan apa yang semula ingin disampaikan. Kadang kesalahan seperti itu terjadi karena kesalahan artikulasi, misalnya karena gagap. Kadang hal itu terjadi karena lupa kata atau belum mengetahui kata yang dimaksud tepatnya bagamana. Bisa juga hal tersebut terjadi karena terjadi perubahan pikiran yang sangat cepat terhadap apa yang ingin disampaikan sehingga kalimat yang diproduksi belum sempat disusun dengan baik oleh otak. Bila hal-hal di atas terjadi pada orang dewasa, biasanya kesalahan tersebut akan cepat disadari dan seringkali langsung ditindaklanjuti dengan pembetulan terhadap kesalahan yang terjadi.


kesalahan dalam berkata tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tapi juga terjadi pada anak-anak. Akan tetapi, karena tingkat pengetahuan dan penguasaan anak-anak akan kata, frasa ataupun kalimat, belumlah semaju orang dewasa, maka dalam menilai kesalahan anak dalam berkata, standar penilaian yang digunakan orangtua tentu sebaiknya tidak dapat disamakan dengan standar penilaian terhadap orang dewasa. Bila demikian, ketika anak melakukan kesalahn dalam berkata, Bagaimana orangtua tahu apakah saat itu ia memang kesalahn yang normal untuk anak seusianya, ataukah kesalahan tersebut merupakan indikasi tehadap permasalahan anak dalam berbahasa? Untuk menjawab pertanyaan terebut, hasil studi Jaeger (2005) tentang tiga kategori kesalahan dalam berkata dapat menolong memberikan petunjuk lebih jauh.


1. Fonologis.

Kesalahan fonologis terjadi karena kurangnya kemampuan untuk mengkoordinasikan bibir, lidah, gigi dan rahang untuk menghasilkan suara yang benar untuk mengucapkan sesuatu. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila kesalahan fonologis sangat sering ditemui pada anak-anak yang sedang belajar bicara. Hal ini terlihat jelas pada bayi yang berusia kurang dari satu tahun, yang belum menguasai kemampuan motorik yang cukup, terutama untuk mengendalikan gerakan rahangnya. Oleh karena itu, umumnya kata-kata yang bisa diucapkannya masih sangat terbatas. Setelah memasuki usia satun, sebagian besar anak mulai menguasai kerampilan motorik yang mengatur artikulasi sehingga perbendaharaan kata mereka bertambah secara bertahap. Kurangnya kemampuan koordinasi tersebut menyebabkan anak-anak yang berada dalam tahap perkembangan tersebut, seringkali menyederhanakan kata-kata yang kompleks bagi mereka misalnya dengan menghilangkan konsonan yang lemah, seperti kata “haus” menjadi “aus”. kesalahan dalam berkata pada anak-anak sebagian besar diakibatkan oleh kesalahan fonologis (67.4%), sedang pada orang dewasa kesalahan fonologis lebih sedikit (54%). Kesalahan fonologis pada anak-anak paling banyak terjadi di kelompok usia2-3 tahun, dan setelah usia tersebut, kesalahan fonologis anak biasanya akan terus berkurang.


2. Leksikal

Kesalahan leksikal merujuk pada kesalahn kontekstual, yaitu kesalahan pemilihan kata dalam kalimat, sehingga makna kalimat tidak seperti yang dimaksudkan atau kalimat menjadi ambigu, misalnya, kalimat “polisi menembak seorang pria dengan dua senjata”. Dalam kalimat ini, terdapat dua dua kemungkinan arti. Kemungkinan arti pertama adalah polisi menggunakan dua senjata untuk menembak pris tersebut, dan kemungkinan arti yang kedua adalah pria tersebut memiliki dua senjata. Kesalahan leksikal pada anak-anak umumnya berkisar sekitar 19.3%, sedang kesalahan leksikal pada orang dewasa umumnya agak lebih banyak, yaitu 23%.


3. Sintaksis

Kesalahan sintaksis merujuk pada kesalahan pada tata bahasa atau struktur kalimat. Misalnya, “mereka-mereka bekerja di kantor ayahku”. Kalimat tadi kurang tepat karena adanya pengulangan kata “mereka”. Kesalahan sintaksis pada anak-anak hampir sama banyak dengan kesalahn sintaksis pada orang dewasa, yaitu sekitar 13%.


Berbekal pemahaman di atas, orangtua akan lebih mampu untuk memahami kesalahan anak daam berkata dengan menggunakan standar penilaian berdasarkan tingkat kemampuan anak di usianya.

0 views