JEBAKAN KONSEP DIRI REMAJA



Pergumulan utama remaja masa kini pada umumnya berkaitan dengan konsep diri. Hal ini tidaklah mengherankan, karena masyarakat di masa modern ini memiliki semacam standar umum tentang penampilan yang ideal, pencapaian yang ideal, status sosial yang ideal, dan lain sebagainya, yang semakin tersebar luas melalui keberadaan berbagai media komunikasi modern, seperti TV atau majalah.


Akibatnya, banyak remaja yang membangun konsep dirinya berdasarkan hal-hal yang kurang tepat, seperti berdasarkan penampilan fisiknya, apa yang ia miliki, aktivitas dalam mana ia terlibat, ataupun berdasarkan teman-teman yang ia miliki. Sosok ideal tadi menjadi tolak ukur bagi banyak remaja untuk menjawab pertanyaan tentang “Siapakah saya?” dan “Seharusnya saya menjadi seperti apa?” Dan jawaban yang ditemui oleh kebanyakan remaja terhadap kedua pertanyaan tersebut seringkali kurang memuaskan. Ada yang merasa kurang langsing, ada yang merasa kurang berada dari segi materi, sebagian lagi merasa kurang populer, dan lain sebagainya. Akibatnya, tidak sedikit remaja yang menjadi kurang percaya diri atau bahkan minder dengan keberadaan dirinya.


Sebagai orangtua, kita tentu ingin agar para remaja kita memiliki konsep diri yang sehat. Untuk itu, kita perlu menolong mereka untuk mewaspadai minimal 4 jebakan konsep diri, sebagai berikut :


1. Jebakan Penampilan

Salah satu indikator penampilan ideal di mata masyarakat secara umum adalah tubuh yang langsing. Akibatnya, remaja yang jatuh dalam jebakan ini terobsesi untuk menurunkan berat badannya sehingga senantiasa memikirkan apa dan berapa banyak kalori yang telah ia makan, apa dampaknya pada berat badannya, bagaimana cara membakar kalori dengan efektif, dan hal-hal lain yang serupa dengan itu. Dalam beberapa kasus ekstrem, beberapa remaja akhirnya menderita bulimia atau anorexia karenanya.


2. Jebakan Pencapaian

Jebakan ini berkaitan dengan keterlibatan dalam aktivitas tertentu dan pencapaian dalam aktivitas tersebut. Jebakan ini sangat umum ditemui karena masyarakat pada umumnya, termasuk kebanyakan orangtua dan guru, tidak jarang memberikan tekanan yang berlebih kepada para remaja untuk menjadi yang terbaik. Remaja yang jatuh ke dalam jebakan ini, umumnya meletakkan harga dirinya pada tingkat keberhasilan mereka untuk menjadi yang terbaik. Mereka akan merasa kurang berharga, bahkan gagal, bila tidak terlibat dalam aktivitas tertentu dan/atau menjadi yang terbaik dalam aktivitas tersebut.


3. Jebakan Materi

Jebakan ini semakin tersebar luas dengan adanya berbagai iklan di media cetak maupun elektronik, yang membombardir para remaja dengan godaan untuk membeli barang tertentu atau merk tertentu agar memenuhi standar masyarakat dan menajdi lebih dekat kepada kesempurnaan. Akibatnya, tidak sedikit remaja yang menilai dirinya, dan juga orang lain, berdasarkan apa yang dimiliki dari segi materi. Mereka rela menghabiskan banyak uang untuk membeli berbagai produk untuk meningkatkan nilai dirinya.



4. Jebakan Popularitas

Remaja yang jatuh dalam jebakan ini cenderung menilai orang, termasuk dirinya, berdasarkan dikotomi popular atau tidak popular. Tentu tidak salah bila seorang remaja ingin disukai banyak orang, memiliki banyak teman baik di dunia maya (online) maupun nyata, diundang menghadiri banyak pesta ulang tahun, dan populer. Namun bila tercapainya hal-hal tersebut menjadi tolak ukur dalam menilai keberhargaan diri, tentu saja itu hal itu menjadi kurang sehat.


Selain menolong para remaja untuk mewaspadai keempat jebakan di atas, sebagai orangtua kita juga perlu menolong remaja-remaja kita untuk dapat menilai dirinya bukan dari kacamata dunia, melainkan dari kacamata Sang Pencipta. Kejadian 1 : 26-28 menyatakan bahwa manusia diciptakan berdasarkan gambar Sang Pencipta alam semesta, yang sempurna dalam segala hal. Kesadaran ini bila tertanam pada diri remaja akan menolongnya untuk terhindar dari keempat jebakan tadi.

0 views