KEHADIRAN SI KECIL & “BABY BLUES”



Istilah “baby blues” belumlah terlalu dikenal dan dimengerti di Indonesia, padahal fenomena tersebut cukup banyak dialami oleh para orangtua baru (ibu baru maupun ayah baru). Akibatnya, tidak sedikit orangtua baru yang tidak tahu harus berbuat apa ketika dihinggapi oleh fenomena tersebut.


Dalam dunia medis, “baby blues” atau “postpartum blues” merupakan tingkatan pertama dari suatu kondisi yang disebut depresi postpartum (PPD). Tingkatan kedua disebut depresi postpartum, dan tingkatan yang paling parah disebut psikosis postpartum. Ketiga kondisi tersebut memiliki gejala yang serupa perbedannya terletak pada tingkat keparahan atau intensitas gejalanya serta pada probabilitas terjadinya. “Baby blues” atau “postpartum blues” merupakan kondisi yang paling ringan dari ketiga tingkatan tersebut dan yang paling sering terjadi para orangtua baru. Gejala umum “baby blues” antara lain adalah sulit tidur, sulit berkonsentrasi, perubahan emosi yang besar (misalnya dari sangat gembira berubah menjadi sangat sedih), sering menangis tanpa alasan yang jelas, tidak sabaran, merasa kesepian, kesedihan yang berkepanjangan, dan lain sebagainya.


Kondisi “baby blues” seringkali disebabkan oleh perubahan hormonal yang terjadi pada si ibu baru tersebut, dan biasanya terjadi tidak lama setelah melahirkan, yaitu antara dua jam sampai dua minggu setelah melahirkan. Kondisi ini tidaklah membahayakan serta umumnya tidak memerlukan pengobatan medis. “Baby blues” yang dipicu oleh peribahan hormonal biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam waktu dua minggu setelah melahirkan. Akan tetapi, ada kasus-kasus “baby blues” yang bukan hanya dipicu oleh perubahan hormonal tubuh, melainkan juga oleh perubahan gaya hidup dan kondisi psikis. Bila sang ibu yang baru melahirkan sangat kurang tidur ataupun memiliki kekhawatiran yang tinggi tentang sesuatu hal, seperti kesehatan sang bayi ataupun finansial keluarga dengan hadirnya si kecil, maka ia memiliki resiko yang tinggi untuk mengalami “baby blues”.


Tentu saja, sangatlah wajar bila seorang ibu baru memikirkan isu-isu tersebut di atas, Akan tetapi, demi kebaikan dirinya dan juga si kecil, akan baik bila dalam beberapa minggu setelah kelahiran, sang ibu berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal tersebut dahulu dan berusaha menjaga dirinya sebaik mungkin, karena saat itu keberadaan ibu sangat diperlukan oleh sang bayi. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh sang ibu untuk itu, antara lain adalah mendisplinkan pikirannya untuk berfokus pada aspek-aspek yang menyenangkan dari kehidupannya, berusaha agar dapat memiliki waktu istirahat yang cukup, serta memanfaatkan dukungan sosial yang ada, baik dari keluarga ataupun teman. Akan baik bila seorang ibu yang baru melahirkan dapat bergabung dengan sekelompok ibu-ibu lain. Keberadaan ibu-ibu lain tersebut paling tidak akan menolong untuk berbagi pikiran tentang hal-hal yang membingungkan bagi seorang ibu baru, misalnya apa yang sebaiknya dilakukan setiap kali si kecil menangis. Keberadaan mereka juga seringkali menolong seorang ibu baru untuk menyadari bahwa apa yang dialaminya, juga dialami oleh banyak wanita lain, sehingga ia tidak merasa sendirian. Bila pertemuan secara fisik sulit dilakukan, maka hal itu dapat dilakukan di dunia maya. Saat ini cukup banyak website yang ditujukan untuk membantu para orangtua baru.


Yang perlu disadari adalah, kondisi “baby blues” tidak hanya dapat menghinggapi seorang ibu baru, melainkan juga dapat terjadi pada seorang ayah baru. Hal tersebut dikarenakan kehadiran seorang anak seringkali bersamaan dengan kehadiran berbagai macam perasaan serta kewajiban. Seorang ayah yang baru saja memiliki anak, selain bahagia dan bangga, juga dapat merasa takut tidak dapat memenuhi kebutuhan finansial keluarga yang meningkat dengan hadirnya sang buah hati. Oleh karena itu, akan baik bila suami maupun istri berusaha untuk sensitif terhadap kebutuhan pasangannya, agar kondisi “baby blues” dapat dihindarkan ataupun dilewati dengan baik.


0 views