KETIKA ANAK MENJADI REMAJA SMP



Secara umum ketika seorang remaja memasuki usia SMP, terjadi perubahan yang signifikan, tidak lagi dalam hal penampilan fisik, karena perubahan fisik tersebut umumnya sudah dilewati pada masa akhir sekolah dasar, melainkan dalam hal perilaku. Ketika memasuki usia SMP, remaja umumnya semakin menarik diri dari keluarganya dan mendekatkan diri pada teman sebayanya, dengan intensitas yang berbeda-beda tentunya. Tidak jarang ditemui kasus dimana seorang remaja, khususnya remaja putrid, menghabiskan waktu yang semakin banyak untuk mengobrol di telpon atau chatting dengan temannya di dunia maya. Tidak sedikit pula remaja di kelompok usia tersebut lebih sering menyendiri di kamarnya untuk mengeksplor berbagai gaya berpakaian atau gaya rambut, meniru gaya remaja SMA ataupun orang dewasa yang mereka kagumi.

Masa SMP memang merupakan masa yang sulit bagi remaja. Hal tersebut dikarenakan pada masa ini mereka umumnya sedang bergumul dengan konsep dirinya, terutama secara fisik. Biasanya, kekhawatiran terbesar yang dimiliki oleh remaja di masa ini berkisar pada dua hal, yaitu apa penilaian teman-teman saya tentang saya serta apa penilaian saya tentang diri saya sendiri. Bila diperhatikan, kedua kekhawatiran tersebut berakhir dengan kata “saya”. Hal ini tidaklah mengherankan, karena di masa ini, pikiran remaja umumnya sedang terfokus pada dirinya sendiri.

Fenomena tersebut sebenarnya cukup normal karena umumnya ketika seseorang berusia 12-15 tahun, otaknya sedang “overload” sebagai akibat cepatnya pertumbuhan otak yang terjadi di masa tersebut. Walaupun struktur otak umumnya sudah terbentuk penuh di sekitar usia lima atau enam tahun, namun hubungan antar sel otak (synapses) di otak bagian atas (cortex) biasanya baru mengalami pertumbuhan yang signifikan pada masa puber. Selain itu, pada masa ini juga terjadi perubahan orientasi sosial. Bila sebelumnya anak lebih berorientasi pada orangtua dalam hal pembentukan pendapat dan preferensi, pada masa remaja, khususnya masa SMP, anak lebih berorientasi kepada teman sebayanya untuk itu. Tidak hanya itu, pada masa ini juga terjadi perubahan hormonal yang cukup signifikan pada remaja. Semua perubahan ini sangat mempengaruhi pemikiran remaja, yaitu cenderung terfokus pada dirinya, tentang siapakah dia dan bagaimana penampilannya serta apa pendapat orang lain tentang kedua hal tersebut.

Semua perubahan itu juga menyebabkan kemampuan sang remaja untuk menangkap emosi maupun hal-hal lain yang bersifat tersirat, menurun dengan drastis. Tidak jarang ditemui kasus dimana remaja di kelompok usia ini sepertinya tidak mempedulikan ketika nada suara ataupun ekspresi wajah orangtua berubah. Yang sebenarnya terjadi adalah bukannya ia tidak peduli, melainkan ia sedang tidak mampu menangkap hal tersebut karena otaknya sedang sangat sibuk. Hal ini seringkali menimbulkan masalah bagi sang remaja dalam usahanya untuk disukai dan diterima oleh teman sebayanya. Tidak jarang ditemui kasus dimana candaan sang remaja kepada temannya menjadi melebihi batas, ataupun usahanya untuk membantu malah membuat kesal temannya, misalnya.

Walaupun orangtua tidak dapat berbuat apa-apa terhadap perubahan hormonal, orientasi sosial, maupun pertumbuhan otak remajanya, namun orangtua dapat membantu sang remaja untuk meminimalkan dampak negatif dari semua perubahan tersebut. Salah satu hal terutama yang dapat dilakukan orangtua dalam konteks ini adalah mengajarkan bagaimana cara meresponi orang lain dengan lebih positif, sebelum anak memasuki usia remaja. Dengan melakukan itu, orangtua sebenarnya sedang membangun suatu kebiasaan dalam diri sang remaja. Dengan demikian, ketika sang remaja sedang berada pada masa SMP dimana kemampuan respon sosialnya menurun drastis, ia dapat tetap meresponi orang lain secara positif tanpa perlu banyak berpikir, karena kebiasaan tersebut sudah tertanam kuat dalam dirinya. Oleh karena itu, marilah kita membangun kebiasaan yang positif pada anak kita sejak dini, sebagai persiapan untuk menghadapi masa remajanya.

0 views