KETIKA SUASANA HATI ANAK TIDAK ENAK….



Dalam perjalanan membesarkan anak, menangani suasana hati anak yang tidak enak merupakan tantangan yang cukup sering dihadapi oleh orangtua. Tidak jarang suasana hati yang tidak enak tersebut mengakibatkan munculnya konflik baik antara orangtua dengan anak ataupun antara anak dengan kakak atau adiknya. Hal tersebut dikarenakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dan keinginannya baru berkembang secara penuh ketika ia memasuki usia 18 tahun. Oleh karena itu, anak yang berusia di bawah 18 tahun cenderung lebih mementingkan diri sendiri sehingga, tanpa ia sengaja, tidak jarang ia membuat anggota keluarga lainnya menjadi merasa terganggu.


Ketika seorang anak membuat anggota keluarga lainnya terganggu, seringkali hal tersebut disebabkan oleh adanya pikiran atau perasaan yang saat itu sedang mengganggu anak, seperti perasaan bosan, keletihan fisik, ataupun keinginan untuk mendapatkan perhatian dari orangtua, walaupun perhatian orangtua tersebut dalam bentuk negatif (teguran atau omelan). Dalam kondisi demikian, sesungguhnya yang dibutuhkan anak adalah perhatian yang positif dari orangtua. Yang dimaksud dengan perhatian positif dalam konteks ini adalah kesediaan orangtua untuk memancing dengan komentar yang tidak bersifat tidak menghakimi serta mendengarkan apa yang ada dalam hati / pikiran anak dengan penuh perhatian dan empati sehingga beban hati / pikiran anak dapat dilepaskan. Untuk dapat melakukan hal tersebut, tentunya orangtua perlu memperhatikan ekspresi wajah, bahasa tubuh ataupun bahasa perilaku anak. Misalnya, orangtua dapat mengatakan,”Sepertinya hal-hal yang biasanya tidak mengganggumu, hari ini membuat kamu jadi kesal ya”. Komentar yang demikian biasanya menolong anak untuk menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya. Komentar seperti itu juga umumnya membuat anak merasa bahwa dirinya, termasuk kekesalannya, diterima apa adanya oleh orangtua.


Satu hal yang penting untuk diingat oleh orangtua ketika mendengarkan anak yang suasana hatinya sedang tidak enak adalah untuk tidak terlalu sensitif dalam memaknai apa yang dikatakan anak, karena dalam keadaan seperti itu, umumnya besar kemungkinan mula-mula anak akan menyalahkan orangtua atas hal yang mengganggunya. Bila karena satu dan lain hal, situasi menjadi memanas, sebaiknya orangtua mengambil inisiatif untuk mundur dari konflik karena kemampuan orangtua untuk mengendalikan emosi lebih besar dibandingkan kemampuan anak untuk itu. Hal lain yang juga penting untuk diingat oleh orangtua adalah bila konflik telah terselesaikan, orangtua perlu segera menghilangkan kekesalannya pada anak, bila ada. Dalam hal ini, ada baiknya orangtua meniru perilaku anak-anak yang dapat bertengkar dengan sengit pada suatu waktu, namun tidak lama kemudian melanjutkan ataupun berpindah ke aktivitas lain dengan gembira.


Selain mendengarkan anak secara aktif, akan sangat baik bila anak sedang dalam suasan hati yang tidak enak, orangtua juga dapat menolong anak untuk menemukan aspek positif (sekecil apapun) dari apa yang mengganggunya hati / pikirannya serta mengeksplor berbagai alternatif solusi. Salah satu alternatif solusi adalah mengalihkan fokus perhatian anak dengan cara mengajaknya bermain, makan makanan favoritnya, berjalan-jalan, ataupun menonton film kesukaannya.


Bila pikiran atau perasaan yang mengganggu anak menyebabkan ia bertengkar dengan kakak atau adiknya, sebaiknya orangtua tidak langsung turut campur agar anak dapat berlatih untuk mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan konflik. Akan lebih menolong anak, bila sebelum konflik terjadi, orangtua dan anak sudah menyepakati beberapa aturan dasar dalam menyelesaikan konflik, termasuk batasan waktu penyelesaian konflik dan konsekuensi bila anak tidak dapat menyelesaikan konflik tersebut sendiri. Tentunya bila konflik mengarah menjadi bersifat serius, seperti melibatkan kekerasan fisik ataupun merusakkan barang, orangtua perlu turun tangan.


0 views