MEMBANGUN RASA PERCAYA DIRI ANAK

Kepercayaan diri merupakan salah satu kunci utama yang mendasari perilaku dan merupakan landasan penting yang menentukan keberhasilan seseorang anak dalam hidup. Seringkali kepercayaan diri yang sehat dianalogikan seperti vaksin dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup. Rasa percaya diri itu sendiri merupakan hasil dari evaluasi diri sebagaimana adanya (persepsi diri) terhadap “diri yang ideal”. Bila konsep “diri yang ideal” tadi realistik, sehingga konsep “diri yang ideal” tidak berbeda jauh dengan diri apa adanya, maka anak akan dapat menerima dirinya sehingga muncul kepercayaan diri. Namun, bila perbedaan antara konsep “diri yang ideal” dengan persepsi diri cukup besar, maka anak dapat menjadi rendah diri karena merasa dirinya tidak cukup baik, ataupun terhambat pengembangan potensinya karena merasa sudah cukup dan tidak perlu berkembang lebih jauh lagi. Dengan demikian, jelaslah bahwa persepsi diri serta konsep “diri ideal” yang realistik merupakan dasar dari rasa percaya diri yang sehat.



Adapun persepsi diri maupun konsep “diri ideal” merupakan konsep yang sangat berkaitan dengan pola asuh orang tua. Karena kedua hal tersebut sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua yang diterima anak selama bertahun-tahun, akibatnya kedua konsep tersebut tidak mudah berubah. Itulah sebabnya tidak mudah untuk membangun kepercayaan diri seorang anak yang sudah terlanjur rendah diri. Jauh lebih mudah, dan lebih menguntungkan, membangun kepercayaan diri anak sejak ia masih kecil. Adapun untuk membangun kepercayaan diri anak sejak kecil, orang tua perlu membangun persepsi diri maupun konsep “diri ideal” yang realistik pada diri anak tersebut sejak kecil. Untuk itu orang tua perlu berusaha menghindari hal-hal berikut :

  • Ekspektasi Yang Perfeksionistis. Orang tua yang ekspektasi terhadap anaknya terlalu tinggi umumnya memberikan ruang yang sangat sempit bagi kesalahan ataupun kelemahan anak. Akibatnya, orang tua yang demikian cenderung menjadi kurang sabar terhadap anak, banyak mengkritik, dan tidak sedikit yang frustasi. Dampaknya terhadap anak adalah dalam diri anak dapat terbentuk pemikiran bahwa ia tidak cukup baik bagi orang tuanya dan tidak mampu memuaskan orang tuanya. Pemikiran yang demikian akan membawa anak tersebut pada perasaan rendah diri.

  • Sikap Terlalu Melindungi. Anak yang terlalu dilindungi oleh orang tuanya memiliki kesempatan yang sangat minim untuk belajar mempercayai dirinya dan menghadapi sendiri masalah dalam hidup. Akibatnya, anak yang demikian cenderung menjadi penakut, rapuh dan memiliki kemampuan yang minim untuk membela dirinya sendiri. Mereka umumnya memandang dirinya sebagai individu yang kurang memiliki kemampuan, sehingga merasa rendah diri.

Adapun sikap yang perlu dikembangakan oleh orang tua untuk membangun kepercayaan diri anak sejak kecil, antara lain adalah :

  • Fokus Pada Aspek Positif Anak. Orang tua perlu menghargai setiap pencapaian maupun kelebihan anak dan sedapat mungkin untuk menghindari mencemooh ataupun meledek anak, walaupun hanya untuk bercanda. Fokus orang tua haruslah pada memberikan feedback yang positif kepada anak. Feedback positif tersebut diusahakan sespesifik mungkin agar anak dapat dengan mudah menghubungkan feedback positif tersebut dengan apa yang ia lakukan atau ia capai. Misalnya, “Senyummu manis sekali” atau “Terima kasih ya, sudah menolong adikmu. Kamu anak baik sekali”.

  • Memberikan Kesempatan Yang Konstruktif. Orang tua perlu kreatif dalam berusaha menyediakan kesempatan-kesempatan yang konstruktif bagi anak. Kesempatan yang konstruktif adalah kesempatan dimana anak dapat berpartisipasi secara aktif dalam suatu kegiatan serta merasa mampu dan (dapat menjadi) kompeten untuk terlibat dalam aktivitas tersebut. Bentuk aktivitasnya bisa macam-macam, seperti kegiatan musik, olahraga ataupun hobby lainnya.

7 views