MENCEGAH PERILAKU BERMASALAH PADA ANAK



Manifestasi perilaku bermasalah pada anak sangatlah beragam, mulai dari menarik diri secara sosial sampai bersikap agresif (baik dalam skala moderat maupun ekstrem) terhadap orang di sekitarnya. Secara umum, anak yang memiliki perilaku bermasalah cenderung merespon lingkungannya dengan cara yang kurang dapat diterima secara sosial. Akibatnya, mereka cenderung tidak populer di antara teman-temannya dan memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah. Tentu, tidak ada satu orangtua pun yang menginginkan hal tersebut terjadi pada anaknya. Untuk itu, ada baiknya orangtua memahami lebih jauh tentang hal-hal terkait perilaku anak serta cara mencegah munculnya perilaku bermasalah pada anak.


Perilaku bermasalah pada anak umumnya terkait dengan minimal satu dari dua hal berikut :

· Masalah internal dalam diri anak, yang umumnya disebabkan oleh adanya kebutuhan fisik, sosial dan / atau emosional anak yang tidak terpenuhi, yang timbul akibat interaksi antara anak dengan lingkungan fisik ataupun lingkungan sosialnya. Termasuk di dalamnya adalah perilaku bermasalah yang didorong oleh keinginan anak untuk mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya.

· Perbedaan nilai sosial-budaya. Penilaian terhadap suatu perilaku sebagai bermasalah atau tidak, sangat dipengaruhi oleh norma dan nilai sosial-budaya yang dianut oleh si penilai. Terkait itu, sebaiknya orangtua tidak menelan mentah-mentah laporan orang lain tentang perilaku anak yang dinilai bermasalah oleh orang lain, melainkan memeriksa terlebih dulu secara kritis apakah perilaku anak yang dinilai bermasalah tersebut dikarenakan sistem nilai yang berbeda atau tidak.


Setelah mengetahui hal-hal yang mempengaruhi perilaku anak, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara mencegah perilaku bermasalah pada anak? Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk itu, misalnya, membentuk kebiasaan dan jadwal yang bersifat rutin sehingga anak tahu apa yang semestinya ia lakukan dalam sehari. Dengan melakukan hal itu, orangtua akan memberikan perasaan aman dalam diri anak karena anak umumnya membutuhkan lingkungan yang stabil dan terprediksi. Dengan demikian, secara tidak langsung orangtua memenuhi kebutuhan emosional anak akan perasaan aman. Namun, orangtua juga perlu sadar bahwa hal itu itu tidak berarti bahwa anak sama sekali tidak menyukai kejutan. Justru sebaliknya, anak umumnya sangat suka kejutan, selama kejutan tersebut menyenangkan dan tidak menimbulkan kecemasan dalam diri anak. Kejutan yang diberikan dalam konteks lingkungan yang aman bagi anak, justru akan melatih anak untuk terbuka terhadap hal-hal baru.


Cara lainnya adalah mendiskusikan dengan anak peraturan-peraturan rumah untuk disepakati bersama. Ketika berdiskusi, ada baiknya orangtua juga menyepakati bersama anak, konsekuensi apa yang akan diterima anak, bila peraturan tersebut dilanggar. Hal itu umumnya akan meningkatkan perasaan aman dalam diri anak karena konsekuensi perilakunya terprediksi. Dengan melakukan hal tersebut, orangtua juga secara tidak langsung mendukung anak secara emosional.


Pujian juga dapat menjadi salah catu cara untuk mencegah perilaku bermasalah pada anak, terutama bila pujian tersebut secara spesifik dikaitkan dengan perilaku anak. Pujian seperti “kamu memang anak baik” atau “kamu pintar sekali” tidaklah cukup spesifik bagi anak untuk dimengerti kaitannya dengan perlakunya. Namun bila bentuk pujian tadi diberikan dengan diikuti oleh penjelasan yang spesifik seperti “Mama senang kamu mau membantu adikmu membereskan mainannya”, pujian tersebut akan dengan mudah dimaknai anak dan dihubungkan dengan perilaku spesifik yang dipuji. Pujian yang demikian akan menyemangati anak untuk mengulangi perilaku yang sama di kemudian hari.


Namun dari semua cara preventif yang ada, yang paling utama adalah kualitas hubungan antara anak dengan orangtua. Hubungan yang penuh pengertian, penerimaan dan penghargaan tulus terhadap anak akan sangat mendukung anak secara emosional maupun sosial. Kasih dapat mengatasi segalanya.

0 views