MENOLONG ANAK MENCEGAH ATAU MENGATASI TRAUMA



Serba-serbi Trauma

Trauma adalah penyimpanan emosi negatif yang tidak tertangani dengan baik. Bahayanya, trauma dapat menciptakan dampak negatif jangka panjang berupa pemikiran yang merusak diri sendiri ataupun tindak kekerasan kepada orang lain. Sayangnya, tidak banyak orang tua yang mengetahui bahwa trauma dapat dialami oleh manusia di segala umur, termasuk oleh janin yang masih di dalam kandungan. Hal ini sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian. Suatu studi yang meneliti sejumlah anak berusia satu tahun yang semuanya ketika masih dalam kandungan, ibunya mengalami trauma, menemukan bahwa anak-anak tersebut sudah memiliki jumlah hormon kortisol yang abnormal dalam darahnya. Penelitian lain juga menemukan bahwa anak-anak yang dioperasi ketika berusia kurang dari satu minggu juga sudah menampakkan gejala trauma. Jadi pandangan bahwa anak kecil tidak dapat mengalami trauma sesungguhnya tidak memiliki dasar yang valid.



Penyebab Trauma

Kejadian-kejadian yang berpotensi menimbulkan trauma pada anak cukup banyak, antara lain :

1. Jatuh

2. Mengalami kecelakaan

3. Dioperasi ataupun mengalami tindakan medis lainnya

4. Sesak napas

5. Hampir tenggelam

6. Perpisahan yang mendadak dengan orang tua

7. Bencana alam

8. Mengalami kekerasan

9. Digigit binatang

10. Menyaksikan kejadian yang mengerikan


Namun demikian, tidak berarti hal di atas pasti akan menimbulkan trauma pada anak, karena tingkat kerentanan terhadap trauma pada masing-masing anak berbeda, bergantung pada beberapa faktor, antara lain umur serta riwayat trauma anak. Secara umum, semakin kecil usia anak, semakin anak rentan terhadap trauma, karena kapasitasnya yang terbatas, sehingga lebih rentan terhadap timbulnya perasaan tidak berdaya yang memicu trauma. Sedang anak yang sebelumnya pernah trauma biasanya memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap trauma yang lain.



Ciri-ciri anak yang mengalami trauma

Biasanya anak yang menderita trauma menunjukkan satu atau beberapa dari gejala berikut :

1. Rewel

2. Mudah menangis

3. Pola bermain maupun pola makan berubah

4. Tubuh menjadi kurang seimbang

5. Penurunan kemampuan yang dimiliki



Menghindari & Mengatasi Trauma

Kunci untuk menghindari atau meminimalkan trauma pada anak adalah dengan mengijinkan anak untuk mengeluarkan emosi negatif yang ditimbulkan oleh suatu kejadian yang tidak menyenangkan, tanpa berusaha mengontrol bentuk dari pengeluaran emosi tadi. Misalnya membiarkan anak berteriak atau menangis bila ia ketakutan. Memonitor dan menyensor tontonan anak serta penggunaan komputer maupun games yang dimainkan anak terhadap hal-hal yang dapat memicu trauma. Jangan menilai berdasarkan persepsi orang tua, karena apa yang sepele bagi orang tua, bagi anak mungkin merupakan hal yang signifikan dan berpotensi menimbulkan trauma.


Bila anak sudah terlanjur menderita trauma, peran orang tua dapat dianalogikan seperti plester. Plester adalah pelindung luka tubuh, namun plester tidak dapat menyembuhkan luka tubuh; yang menyembuhkan luka tubuh adalah tubuh itu sendiri. Demikian pula, yang dapat menyembuhkan trauma pada diri seorang anak adalah anak itu sendiri. Orang tua cukup melindungi anak agar sembuh dari traumanya, dengan cara mengontrol ekspresi emosi orang tua agar tenang dan dapat mengurus anak dengan baik, sehingga tidak ada trauma baru yang timbul. Hal tersebut dikarenakan anak sangat dipengaruhi oleh kondisi emosi orang tua. Namun, bila trauma anak masih berkepanjangan, maka sangat disarankan untuk membawa anak ke psikolog atau konselor agar dapat ditangani secara profesional.

0 views