PERASAAN MARAH ANAK & BERMAIN



Perasaan marah merupakan suatu bentuk emosi yang sangat normal dijumpai dalam pengalaman hidup manusia, tanpa memandang usia, dan melingkupi sejumlah intensitas emosi, mulai dari sekedar kesal sampai perasaan frustasi.. Sayangnya, sebagian besar masyarakat menganggap bahwa perasaan marah adalah suatu bentuk emosi yang negatif dan tidak diinginkan sehingga harus ditekan semua bentuk ekspresinya. Padahal, perasaan marah dapat menjadi pendorong ha-hall yang positif bila dikelola dengan baik. Misalnya, perasaan marah terhadap suatu tindak ketidakdilan dapat memotivasi seseorang untuk mengambil tindakan untuk menghilangkan ketidakadilan tersebut.


Hal tersebut mengimplikasikan bahwa perasaan marah adalah emosi yang bersifat netral. Ia menjadi bersifat positif atau negatif, bergantung pada pengelolaannya. Bila dikelola dengan baik, perasaan marah tidak perlu menjadi suatu bentuk emosi yang ditakuti keberadaannya. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menolong anak-anaknya agar dapat memiliki kemampuan untuk mengontrol perasaan marah mereka secara sehat, termasuk di dalamnya kemampuan untuk mentoleransi perasaan frustasi dan kemampuan untuk menenangkan diri. Bila anak memiliki kemampuan tersebut, maka ia akan dapat menghindar dari bentuk ekspresi yang tidak baik akan perasaan marahnya.


Kegiatan bermain dapat menjadi salah satu alternatif cara yang menyenangkan untuk mempelajari pengelolaan emosi, termasuk perasaan marah. Hal tersebut dikarenakan kegiatan bermain menawarkan suatu wadah yang merefleksikan berbagai aspek kehidupan nyata namun terkontrol dan relatif terprediksi, dan karenanya, aman bagi anak untuk mengeksplor berbagai perasaannya, termasuk perasaan marahnya. Salah satu bentuk permainan yang dapat dilakukan oleh orangtua bersama anak untuk melatih pengelolaan perasaan marah anak misalnya permainan peran. Untuk melakukan permainan ini diperlukan kertas kosong dan alat tulis. Mula-mula orangtua dan anak menyepakati untuk memilih satu tokoh untuk dimainkan, kemudian salah satu memulai dengan menuliskan di kertas suatu kalimat yang mengekspresikan kemarahan dan memberikannya kepada lawan mainnya. Kemudian, lawan main menulis di kertas tersebut respon kalimat yang juga berisi kemarahan dan memberikannya kepada pemain pertama. Setelah itu, pemain pertama menuliskan di kertas apa yang menurut pemikirannya terjadi setelah itu dan kembali memberikannya kepada sang lawan main. Terakhir, lawan main menuliskan di kertas pendapatnya tentang situasi tersebut. Setelah itu, permainan tersebut dapat diulang dengan berfokus pada cara mengekspresikan kemarahan tadi dengan lebih baik.


Mengingat permainan di atas dan sebagian besar permainan untuk melatih pengelolaan perasaan marah lainnya melibatkan beberapa aturan main, maka permainan-permainan tersebut sebaiknya ditujukan untuk anak yang berusia di atas lima tahun, karena mulai usia lima tahun mulai terbentuk kemampuan anak untuk menunggu giliran, mengikuti aturan main dan menerima kekalahan. Tentu saja orangtua dapat menciptakan sendiri permainan-permainan untuk melatih anak mengelola perasaan marahnya. Dalam konteks itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua, sebagai berikut :



  • Permainan sedapat mungkin bersifat non-kompetitif untuk meningkatkan perasaan aman anak ketika memainkannya.

  • Bila permainan karena satu dan lain hal, bersifat kompetitif, sebaiknya permainan tersebut melibatkan unsur keberuntungan sehingga kekalahan tidak selalu terkait dengan kemampuan, dan setiap anak memiliki kemungkinan untuk menang di kesempatan berikutnya. Selain itu, usahakan agar permainan dapat langsung dimainkan kembali, sehingga mereka dapat segera memperoleh kesempatan baru untuk menang.

  • Permainan-permainan tersebut tidak dapat menjadi pengganti program yang secara professional memang ditujukan bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan emosi yang kompleks.


Selamat mencoba dan berlatih bersama anak anda!

0 views