PERSAHABATAN PADA ANAK BALITA



Persahabatan dengan individu lain yang sebaya merupakan kebutuhan yang bersifat dinamis serta dipengaruhi oleh temperamen dan pengalaman hidup. Perkembangan hal tersebut juga sangat dipengaruhi oleh tingkat kematangan yang umumnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Ketika seseorang masih bayi sampai dengan usia dua tahun, ia relatif tidak terlalu memerlukan persahabatan dengan individu lain seusianya. Hal tersebut dikarenakan, pada masa tersebut, hubungan anak dengan individu lain umumnya terfokus pada orang dewasa yang merupakan pengasuh utamanya, yang selalu datang bila ia menangis karena lapar, basah oleh ompol ataupun bila ia ingin digendong. Bila berada dalam keadaan nyaman, umumnya bayi cukup senang untuk bermain-main sendiri, mengeksplor dunia sekitarnya baik secara kognitif maupun emosional.


Kebutuhan akan persahabatan dengan individu lain yang sebaya umumnya baru terbentuk ketika anak memasuki usia 2 – 3 tahun, dimana ia mulai menikmati bermain bersama individu lain dan mulai mengembangkan ketrampilan sosialnya. Salah satu ketrampilan sosial yang umumnya mulai dikembangkan oleh anak balita, yang berkontribusi terhadap terbangunnya persahabatan adalah kemampuan untuk menangkap makna ekspresi wajah & bahasa tubuh orang lain sehingga ia dapat mengkoordinasikan dirinya terhadap minat ataupun suasana hati orang tersebut. Pada masa ini, hubungan sosial anak dengan teman sebayanya cenderung merefleksikan kualitas hubungannya dengan pengasuh utamanya. Bila anak memiliki hubungan yang harmonis dengan pengasuh utamanya, ia cenderung dapat memiliki hubungan yang harmonis dengan teman sebayanya.


Ketrampilan sosial lain yang juga mulai berkembang pada masa balita yang sangat penting bagi terbangunnya persahabatan adalah kesediaan untuk berbagi mainan. Untuk dapat bermain bersama dengan harmonis, perlu ada kesediaan dari anak untuk mengurangi kelekatan dan kontrol terhadap mainannya serta bersikap toleran terhadap kreativitas temannya, sehingga dapat berkolaborasi dengan teman bermainnya. Bila anak memiliki batas toleransi yang rendah terhadap temannya, maka ia cenderung akan mudah marah sehingga menyulitkan terbangunnya kegiatan bermain bersama yang harmonis dengan anak lain sebayanya. Padahal, kegiatan bermain bersama merupakan fondasi bagi terbangunnya persahabatan pada anak balita. Bermain adalah esensi dar masa kanak-kanak.


Kesediaan berbagi ini umumnya semakin terasah seiring dengan bertambahnya pengalaman bermain bersama yang positif, dimana sang balita merasa bahwa bermain bersama lebih menyenangkan daripada bermain sendiri, karena dapat berbagi kesukaan yang sama dengan teman sebayanya dan saling mengagumi. Pada masa inilah anak mulai dapat mengalami ‘plato bermain’, yaitu suatu momen dalam konteks bermain yang diciptakan secara bersama dan dimiliki bersama, dimana anak tidak memiliki kontrol penuh atas kegiatan bermain tetapi juga tidak dikontrol oleh teman bermainnya. Dalam konteks demikian, maka anak-anak balita tersebut umumnya mampu melakukan “give and take” secara resiprokal, yang merupakan perkembangan yang signifikan dari ketrampilan sosial balita.


Akan tetapi, perlu disadari bahwa ketrampilan sosial tidaklah identik dengan persahabatan. Ketrampilan sosial yang baik memang akan memudahkan terbentuknya persahabatan di antara anak balita. Namun terbentuknya persahabatan memerlukan lebih dari sekedar ketrampilan sosial yang baik. Agar persahabatan dapat terbentuk di antara dua orang anak balita, perlu ada kedekatan emosional dan rasa percaya yang timbal-balik di antara keduanya. Terkait itu, berbagai hasil penelitian mengindikasikan bahwa syarat utama bagi terbentuknya persahabatan pada anak balita adalah adanya frekuensi pertemuan untuk bermain bersama yang cukup. Hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh kedekatan jarak geografis rumah ataupun keberadaan pada fasilitas yang sama, misalnya berada di sekolah yang sama. Kegiatan bermain bersama yang dilakukan cukup sering akan membangun kedekatan emosi yang merupakan fondasi bagi terbentuknya persahabatan pada anak balita. Sudah siapkah balita anda untuk membangun persahabatan dengan teman sebayanya?

0 views