SERBA-SERBI KELUARGA BERMIGRASI



Di jaman modern ini, di mana teknologi sudah sangat maju sehingga seseorang dapat melakukan perjalanan dengan mudah ke berbagai belahan dunia, fenomena migrasi semakin mendunia. Saat ini, tidak sedikit warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri, dan sebaliknya, cukup banyak pula orang asing yang menetap di Indonesia. Sejalan dengan semakin banyaknya migrasi, isu akulturasi budaya pun menjadi semakin populer karena masing-masing daerah atau negara memiliki pola perilaku dan pola pikir yang berbeda. Dalam konteks ini, akulturasi budaya didefinisikan sebagai suatu proses yang bersifat multidimensi dimana seseorang ataupun sekelompok orang secara bersamaan mengadopsi perilaku dan pola pikir yang ada di tempat yang baru serta mempertahankan perilaku dan pola pikir tempat asalnya. Dengan demikian, kehidupan keluarga yang berimigrasi tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi dari lingkungan barunya, namun juga oleh budaya yang diwarisinya dari tempat asalnya. Karena itu, tidak dapat disangkali bahwa akulturasi budaya merupakan faktor yang akan sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan keluarga, seperti pengaturan peran dalam keluarga, pola pengambilan keputusan, pola asuh anak, standar tumbuh kembang anak, dan lain sebagainya.


Harus diakui bahwa keluarga yang bermigrasi menghadapi tantangan yang unik dalam berakulturasi dengan lingkungan budaya setempat. Berbagai keputusan orangtua dalam konteks akulturasi budaya, seperti penentuan pola asuh anak, bila tidak dilakukan dengan bijaksana akan dapat mempengaruhi secara negatif kemampuan anak untuk beradaptasi dengan baik di lingkungan barunya. Hal itu disebabkan oleh fakta bahwa orangtua memiliki pengaruh yang sangat besar pada anak, baik secara langsung (misalnya, melalui pola asuh), maupun secara tidak langsung (misalnya, melalui hubungan antar orangtua, hubungan antara orangtua dengan komunitas setempat, dan lain sebagainya).


Dalam konteks keluarga yang bermigrasi, tidak ada satu pola akulturasi yang bersifat one fit for all dalam menentukan pola asuh yang tepat bagi anak, karena hal itu akan sangat dipengaruhi oleh budaya setempat, tingkat ekonomi keluarga, sifat pekerjaan orangtua, sistem pendidikan yang diikuti oleh anak, temperamen anak, keberadaan support system (baik formal maupun informal), dan lain sebagainya. Namun demikian, ada beberapa hal umum yang dapat dijadikan panduan oleh orangtua untuk mengoptimalkan proses akulturasi keluarga, khususnya anak, seperti :

  1. Menyadari bahwa antara anak satu dengan lainnya memiliki kecepatan yang berbeda dalam berakulturasi, misalnya dalam kecepatan mempelajari bahasa yang baru, beradaptasi terhadap jenis makanan yang baru, mengadopsi identitas diri yang baru, antusiasme untuk berpartisipasi dalam perayaan tradisi setempat, dan lain sebagainya. Karenanya, akan baik bagi anak bila ia tidak dibanding-bandingkan dengan anak lain, termasuk dengan kakak atau adiknya.

  2. Anak dalam keluarga yang bermigrasi seringkali menghadapi tuntutan sosial yang lebih besar karena ia diharapkan dapat menempatkan diri di lingkungan budaya di tempat ia berada sekarang maupun di lingkungan budaya tempat asalnya. Oleh sebab itu, akan lebih menolong anak bila orangtua mengambil peran sebagai pendukung yang selalu siap untuk menerima anak apa adanya dan menyemangati anak secara positif.

  3. Menyadari bahwa seringkali proses akulturasi orangtua yang tidak bekerja tidaklah secepat orangtua yang bekerja ataupun anak yang bersekolah, karena kontak yang lebih minim dengan budaya yang ada. Untuk meminimalkan konflik dalam keluarga akibat perbedaan akulturasi budaya, akan baik bila orangtua yang tidak bekerja turut aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan komunitas setempat agar jurang akulturasi dalam keluarga tidak terlalu besar.

0 views