TANTRUM & PENANGANANNYA



Perasaan marah merupakan suatu bentuk emosi yang ada pada manusia sejak bayi. Ketika bayi menangis dengan keras karena lapar atau karena merasa tidak nyaman, sesungguhnya ada perasaan marah di dalamnya. Hanya saja, kemarahan tersebut tidak tertuju kepada orang tertentu, sebagaimana kemarahan yang lazim ada pada anak-anak yang sudah lebih besar maupun pada orang dewasa. Hal tersebut dikarenakan, pemahaman bahwa orang lain merupakan individu yang terpisah dari dirinya baru mulai berkembang setelah bayi memasuki usia 6 bulan. Itulah sebabnya, sebagian besar anak biasanya mulai menunjukkan perilaku tantrum di usia 1 atau 2 tahun. Pada saat itu, mereka mulai memiliki keinginannya sendiri, dan mereka umumnya menjadi marah ketika orangtua ataupun pengasuhnya, menghalangi keinginannya. Kemarahan ini tidak jarang menjadi tantrum karena memang pada usia ini, kemampuan pengendalian emosi anak masih sangat rendah.

Namun bila diperhatikan, umumnya anak usia 1 – 2 tahun, belum berani untuk mengekspesikan kemarahannya dengan cara menyerang secara fisik (memukul ataupun menggigit) orangtua atau pengasuhnya, walaupun mungkin hal tersebut sudah berani mereka lakukan terhadap anak lain. Biasanya ketika marah kepada orangtua, mereka mengekspresikannya melalui tindakan yang berkaitan dengan diri mereka sendiri, seperti berguling-guling di lantai, misalnya. Pastinya, temperamen bawaan anak sangat mempengaruhi frekuensi tantrumnya. Anakyang bertemperamen meledak-ledak ataupun keras kepala umumnya lebih mudah tantrum.


Ketika anak tantrum, apa yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua? Ada beberapa prinsip yang perlu diingat oleh orangtua untuk menangani perilaku tantrum pada anak :

  • Tidak menyerah dan mengikuti keinginan anak hanya karena emosi anak meledak-ledak. Karena, bila orangtua menyerah, anak akan menangkap bahwa ia dapat memperoleh keinginannya dengan cara tantrum. Akibatnya, anak kemungkinan akan menunjukkan perilaku tantrum dengan sengaja di kemudian hari untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Bila anak tantrum, sebaiknya orangtua berusaha menolong anak untuk menghilangkan kemarahannya secepat mungkin. Untuk itu, tentunya orangtua perlu mempelajari cara yang paling efektif menghilangkan tantrum anak melalui trial and error serta observasi, karena setiap anak unik.

  • Menghindari memberikan hukuman fisik sebagai konsekuensi. Karena bila demikian, orangtua tidak mencontohkan pengendalian emosi kepada anak dan orangtua tanpa sadar menanamkan kepada anak bahwa tujuan berperilaku baik adalah untuk menghindari kemarahan orangtua serta menghindari rasa sakit yang diakibatkan oleh hukuman orangtua. Padahal dalam diri anak perlu ditanamkan bahwa perilaku yang diarahkan oleh orangtua adalah perilaku yang seharusnya. Dengan demikian, hal itu akan membangun nilai-nilai moral dan etika anak, sehingga perilaku tersebut akan tetap dilakukan ketika orangtua tidak ada untuk mengawasi.

  • Orangtua sering memuji anak ketika ia melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

  • Berusaha sedapat mungkin untuk memenuhi keinginan anak, selama keinginan tersebut masih dalam batas kewajaran, sehingga meminimalkan munculnya kemarahan anak dalam bentuk tantrum. Hal ini akan membangun kepercayaan anak pada orangtua, bahwa bila orangtua tidak memberikan apa yang diinginkannya, orangtua pasti punya alasan yang sangat kuat untuk itu.

Bila prinsip-prinsip diatas berhasil kita tanamkan pada anak, maka kemungkinan besar hal itu akan diteruskan kepada cucu kita melalui pola asuh yang serupa seperti yang dialaminya di masa kecil. Mari kita membangun generasi yang tidak hanya sehat fisik dan pandai secara intelektual, tetapi juga matang dalam pengendalian emosi.

0 views